OTODRIVER - Jenis BBM nonsubsidi beberapa waktu lalu mengalami kenaikan harga yang siginfikan.
Sebut saja Pertamax Turbo di SPBU Pertamina di bulan April harganya sudah menyentuh angka Rp19.400, naik dari harga Rp13.100.
Begitu juga dengan harga Dexlite Rp23.600 dari Rp14.200 per liter, dan Pertamina Dex dengan label harga baru Rp23.900 untuk tiap liternya. Alias naik harga dari sebelumnya yang Rp14.500 per liter.
Kenaikan itu juga memicu kenaikan BBM yang sejenis di beberapa SPBU swasta.
Lantas kemudian bermunculan beragam perdebatan publik bahwa ada opsi untuk memilih bahan bakar dengan RON lebih rendah agar mendapatkan harga lebih terjangkau lagi.
Debat kusir tentu bisa berkepanjangan perihal opsi memilih BBM dengan RON lebih rendah. Oleh karena itu pandangan dari bengkel resmi boleh jadi bisa dianggap panduan yang tidak menyesatkan.
Sebagaimana diungkapkan oleh Aftersales Manager Hyundai Gowa, Eko Prasetyo, yang dihubungi langsung beberapa waktu lalu.
Ia menyebutkan bahwa pihak pabrikan sejatinya sudah memberikan rekomendasi RON terbaik untuk kendaraannya.
Ia mencontohkan pada Hyundai Creta yang menurut buku panduan manualnya bisa mengonsumsi BBM dengan kandungan RON minimal di angka 90, mudahnya itu setara BBM jenis Pertalite.
Hal serupa juga disebutkan oleh Marketing Div. Head Auto2000, Nur Imansyah Tara, pemilihan BBM dengan RON minimum sudah ditetapkan pihak pabrikan.
Dicontohkannya juga pada Toyota Innova Zenix yang diperkenankan memakai BBM dengan RON minimal di angka 91.
Sejurus kemudian, pria yang akrab dipanggil Tara itu menerangkan lagi, pemakaian BBM dengan RON di bawah rekomendasi spesifikasi yang telah ditetapkan pabrikan berpotensi menimbulkan sejumlah risiko.
Sebut saja, mulai dari gangguan pada mesin, tidak optimalnya performa mesin, dan membuat konsumsi BBM menjadi kurang efisien. Bahkan dalam jangka panjang dapat berpotensi mengalami kendala lain.


Rekomendasi seragam untuk semua kondisi kendaraan
Baik Eko maupun Tara menegaskan soal rekomendasi standar bahan bakar dari pabrikan berlaku untuk kendaraan yang masih dalam masa garansi maupun yang sudah lewat masa garansi.
Pihak Toyota di Indonesia, menurut Tara, untuk kendaraan Toyota yang masih dalam masa garansi maupun sudah tidak dalam masa garansi sebaiknya tetap mengikuti spesifikasi yang ditetapkan sesuai yang ada di dalam buku pedoman pemilik. Tujuannya agar performa kendaraaan dapat lebih optimal.
Eko kemudian menyitir soal buku garansi atau buku manual yang secara prinsip jadi panduan mutlak bagi pengguna dan dealer untuk saling menyepakati tentang toleransi dan batasan standar RON tadi.
Untuk kendaraan yang masih dalam masa garansi, jika ditemukan segala bentuk penggunaan yang menyalahi aturan garansi tentu akan menggugurkan jaminan garansi. Menurutnya pihak prinsipal (HMID) juga tidak atau belum ada informasi mengenai toleransi atas hal-hal yang tertera di buku manual.
Baik Eko maupun Tara, sepakat bahwa panduan umum maupun khusus yang tertera pada buku manual merupakan titik persepsi yang perlu dicermati oleh pemilik kendaraan.
Nah, pertanyaannya kini apakah jika ada pemilik kendaraan yang sebelumya terbiasa membeli BBM dengan RON 98 secara teknis dapat memilih RON yang lebih rendah?
Menurut Tara, bila ingin menurunkan pembelian BBM dengan RON lebih rendah usahakan dilakukan secara bertahap. Contoh, dari RON 98 ke RON 95 dahulu, tidak langsung mengisi tangki dengan BBM pada tingkat RON terendah
Langkah bertahap itu juga berguna untuk memantau gejala yang mungkin pada mesin kendaraan seperti knocking, tenaga mesin menurun, atau suara mesin jadi kasar.
Jika ada gejala-gejala seperti tadi disarankan untuk kembali memilih ke BBM dengan RON yang lebih tinggi lagi.
Eko juga memungkaskan, misalnya pada konsumsi jenis bensin, dimana konsumsi BBM dengan RON 98 bukan syarat mutlak karena masih ada opsi RON 92 dan 90.
Sekali lagi, rekomendasi pemakaian bahan bakar dengan RON minimal yang tertera pada buku panduan pemilik perlu diperhatikan secara cermat. Subyek ini perlu diikuti dulu sembari menunggu harga BBM stabil lagi. (EW)











