OTODRIVER - Walau belum ada pengumuman pemerintah terikait kenaikan harga bahan bakar. Namun jika melihat kondisi dunia yang ada saat ini, kondisi perang di Timur Tengah membuat harga minyak mentah berpeluang untuk naik terus. Kondisi ini pun berpeluang memberikan dampak kenaikan bahan bakar di tanah air.
Salah satu fenomena jika terjadi kenaikan BBM adalah kemungkinan terjadinya pengoplosan bensin. Mohon disepakati bahwa yang dimaksud dengan pengoplosan di sini adalah mencampur dua bahan bakar RON yang lebih rendah dengan RON yang lebih tinggi. Pengoplosan ini dilakukan pemilik/pengguna mobil dengan tujuan mendapatkan turunan dengan angka RON yang lebih tinggi.
Semisal BBM RON 95 dicampur dengan RON 98 dengan komposisi 50%-50% maka akan mendapatkan turunan RON 95.
Angka RON oplosan ini lebih tinggi dari bahan campuran RON terendah. Walau pun lebih rendah dari RON 98, namun dari sisi kuantitas dan harga lebih menguntungkan.
Lalu apakah proses pencampuran atau pengoplosan ini memberikan efek negatif atau bisa merusak kendaraan?
Direktur PT Catur Bangun Putra, HM Gazy Amin pun memberikan penjelasannya.
“Secara teknis pencampuran yang dilakukan dengan mengisi dua jenis bahan bakar yang berbeda tidak menjadi masalah,” tegas pria yang berkecimpung di bidang pengecekan kualitas bahan bakar di Indonesia ini.

“Paling pengaruhnya pada warna bahan bakar yang jadi kurang indah dipandang. Tapi sejauh pengalaman saya, tindakan tersebut aman digunakan pada mesin,” ungkapnya saat dihubungi Otodriver, Selasa (07/04/2026).
Gazy menggarisbawahi bahwa bensin hasil ‘oplosan’ tersebut harus sesuai dengan kebutuhan oktan yang dianjurkan untuk mesin.
“Semisal pabrikan menganjurkan menggunakan BBM dengan standar RON 92, maka BBM oplos dengan RON 94 memenuhi syarat dan aman digunakan,” jelasnya lebih rinci.
“Sebaliknya jika mobil tersebut dianjurkan pakai RON 98 dan kemudian menggunakan oplosan dengan RON 94, maka itu tidak dianjurkan. Oktan yang lebih rendah akan membuat mesin mengelitik (knocking) yang berakibat pada turunnya performa dan juga penumpukan kerak di mesin karena proses pembakaran premature,” tutupnya. (SS)










