OTODRIVER - Changan Depal S05 memang belum recara resmi meluncur di Indonesia, akan tetapi saat ini ia tercatat sebagai Range Extended Electric Vehicle (REEV) pertama yang diperkenalkan di Indonesia.
Dan market Indonesia tengah menunggu pengumuman resmi harga dari mobil yang ditempatkan di bawah S07 ini.
Di Tiongkok, sebenarnya S05 bukan barang baru. Mobil ini sebenarnya sudah dirilis ke pasar Tiongkok pada 2024 silam.
Mobil yang dibangun di atas arsitektur Changan EPA 1 ini sebenarnya lahir tidak sendirian. Ia pun punya versi battery electric vehicle (BEV) yang bahkan punya pilihan penggerak lebih lengkap, rear wheel drive (RWD) dan all wheel drive (AWD). Sedangkan versi EREV ini hanya tersedia versi penggerak belakang saja.
Lalu mengapa kemudian Changan Indonesia justru memilih versi REEV yang notabenenya tidak punya opsi dan sekaligus merupakan varian dengan konsep yang sama sekali baru?
Chief Executive Officer (CEO) Changan Indonesia, Setiawan Surya pun buka suara terkait pilihan tersebut.
Setiawan mengatakan bahwa Changan melihat bahwa transisi menuju new energy vehicle (NEV) di Indonesia ini membutuhkan solusi yang relevan dengan berbagai kondisi infrastruktur dan kebiasaan konsumen saat ini.
“Kami membawa REEV sebagai teknologi yang menghadirkan kendaraan elektrifikasi yang lebih adaptif terhadap kebutuhan konsumen Indonesia. Teknologi EREV dapat membantu mengurangi kekhawatiran konsumen terkait keterbatasan infrastuktur pengisian daya maupun range anxienty,” jelasnya saat dihubungi Otodriver belum lama ini.

Cocok Untuk Indonesia
Lebih lanjut Setiawan mengatakan bahwa pasar NEV di Indonesia berkembang dengan baik dan semakin diterima oleh pasar. Namun perlu disadari bahwa setiap konsumen memiliki kebutuhan mobilitas yang berbeda.
“BEV cocok digunakan di area urban dengan akses charging station yang memadai. Sedangkan untuk konsumen yang belum siap beralih ke kendaraan listrik murni atau masih membutuhkan fleksibilitas untuk berjalan dengan jarak yang jauh, membutuhkan teknologii seperti REEV atau PHEV, sebagai solusi yang lebih realistis,” sambungnya.
Setiawan menambahkan bahwa Changan percaya bahwa masa depan elektrifikasi di Indonesia tak hanya bergantung pada satu jenis teknologi saja. Hadirnya pilihan yang lebih beragam akan menguntungkan konsumen, lantaran punya opsi yang lebih luas.
Seperti harganya, Changan juga belum memberikan keterangan resmi mengenai spesifikasi mobil ini.
Namun jika merujuk pada model yang sudah beredar di Thailand, Changan S05 ini dibekali dengan mesin bakar 1.500 cc yang murni berfungsi sebagai generator saja untuk mengisi baterai lithium ferro phosphate (LFP) yang berukuran 27,28 kWh. Sedangkan motor listrik yang memutar roda belakangnya berkekuatan 218 PS dan torsi 320 Nm.
Changan S05 bisa dipastikan akan jadi REEV pertama di Indonesia, namun sepertinya dia tak akan lama melenggang sendirian, karena di tahun 2026 ini juga BAIC dikabarkan cukup serius akan memperkenalkan BJ41e dan besar kemungkinan akan langsung menjualnya dalam waktu dekat. (SS)











