BUS-TRUCK - Dari laman International Energy Agency (IEA) terungkap bahwa bahan bakar alternatif terbarukan diprediksi meningkat kebutuhannya. Tren ini mencapai 50 persen dari kebutuhan bakar bakar di dunia sampai tahun 2030.
Wilayah yang membutuhkan terbanyak atas bahan bakar non fosil itu adalah Eropa dan Tiongkok dengan porsi 45 persen.
Sementara itu, area kedua terbesar yang juga butuh pasokan bahan bakar non fosil adalah Brazil, Malaysia, Indonesia, dan India. Porsinya 35 persen.
Di periode yang sama juga ada prediksi bahwa wilayah seperti Brazil, Indonesia, India, kawasan Eropa, dan Kanada akan mengalami lonjakan permintaan biofuel. Masing-masing diperkirakan ada lonjakan; 40 persen, 20 persen, 15 persen, 10 persen, dan 7 persen.
Sektor transportasi akan mendominasi lonjakan kebutuhan itu seiring dengan tren peningkatan harga BBM solar konvensional.
Kondisi itu sudah diisyaratkan oleh Menteri Pertanian Republik Indonesia, Andi Amran Sulaiman, beberapa waktu yang lalu (19/4). Seperti dikutip dari Antara, Andi menyebutkan bahwa Indonesia akan menghentikan impor solar mulai 1 Juli 2026 seiring penerapan biodiesel 50 persen (B50) berbasis sawit.
Keterangan yang diungkapkan di Surabaya itu menurutnya jadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat kemandirian energi nasional dengan memanfaatkan komoditas kelapa sawit sebagai bahan bakar alternatif.
Ditambahkannya, bahan sawit tidak hanya dapat diolah menjadi solar, tetapi juga menjadi bensin dan etanol yang saat ini tengah dipercepat pengembangannya.
Keduanya, masih menurut Andi, akan menjadi bahan energi masa depan nasional yang juga akan menekan potensi ketergantungan Indonesia akan pasokan bahan bakar dari impor yang rentang fluktuasi harga.
Masih ada anggapan kalau uji coba B50 untuk jarak 50 ribu kilometer masih terlalu pendek untuk ukuran kendaraan komersial. (Foto : Otodriver/Erie W. Adji)
Baca juga: Soal Penyimpanan Solar B50 Di SPBU Masih Perlu Diwaspadai
Baca juga: Gantikan B35, Biosolar B40 Mulai Dipasarkan Per 1 Januari 2025
Peduli soal potensi biaya tambahan untuk atasi dampak pemakaian solar B50
Ditemui di sela ajang GIICOMVEC 2026 beberapa waktu lalu (11/4), Sales and Marketing Director PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB), Aji Jaya, menjelaskan bahwa percepatan penerapan bahan bakar B50 merupakan dampak dari berbagai masalah akibat konflik di kawasan Timur Tengah.
Percepatan itu menurut Aji masih dalam kajian pihaknya juga menyertakan satu unit Mitsubishi Fuso Fighter X dalam uji jalan 50 ribu kilometer yang dilakukan pihak Kementerian ESDM selama periode Desember 2025 hingga Mei 2026.
Dalam kesempatan yang sama, Aji masih belum bisa menerangkan perihal hasil pengujian tersebut. Pun juga soal kemungkinan adanya penyesuaian teknis atas dapur pacu yang mengonsumsi solar B50 dimana pihak KTB masih butuh pemeriksaan internal lanjutan.
Di lain pihak, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, seperti dikutip juga dari Antara (21/4) menerangkan data sementara yang menunjukan soal tes kandungan air, angkanya 208,81 ppm yang masih di bawah toleransi 300 ppm sebagai kadar air maksimal. Pada B40 toleransinya 320 ppm.
Soal potensi monogliserida atau pengendapan serta stabilitas oksidasi formula B50 juga memenuhi batas yang dipersyaratkan sesuai rekomendasi Komite Teknis Bioenergi Cair.
Ditemui langsung di ajang Busworld 2026 beberapa waktu lalu (20/5), Sekjen Organda, Kurnia Lesani Adnan, tak menyangkal bahwa B50 layak untuk dijadikan bahan bakar untuk kendaraan komersial.
Mewakili para operator bus, ia lebih menyoroti penyimpanan solar B50 saat sudah di SPBU, terutama di musim pancaroba. Kondisi seperti itu menurutnya punya potensi kondensasi yang hasilnya berupa penggumpalan materi nabati yang tidak bisa dipadukan lagi di dalam dispenser milik SPBU.
Tambahan peralatan atasi jelly akibat B50 berpeluang dibebankan pada harga tiket untuk penumpang (Foto : Otodriver/Erie W. Adji)
Menurut petinggi dari SAN Transport itu jika kondisi tersebut tak tertangani maksimal akan bisa membuat solar B50 mengandung gumpalan cair yang bikin mesin terganggu. Belum lagi, kesiapan awak armada yang akan berupaya mengatasi kendala di tengah perjalanan akibat tersumbatnya saluran bahan di bus maupun truk.
Solusi darurat atas penyumbatan akibat cairan padat B50, menurut pria yang akrab dipanggil Sani itu, masih perlu waktu lagi. Belum lagi kemungkinan soal pemakaian peranti katalisator khusus yang mereduksi dampak langsung dari pemakaian solar B50 yang label harganya mahal.
Sementara itu, salah satu pendiri Sinar Jaya, Rasidin Karyana, yang juga ditemui pada ajang Busworld 2026 (22/5) memungkaskan bahwa sebagai operator pihaknya lebih mencermati soal ada atau tidaknya potensi tambahan biaya yang akan dibebankan pada tiket bagi calon penumpang. (EW)

Erie W. Adji
reporter
Jurnalis otomotif yang sudah malang melintang sejak 2000. Berpengalaman menulis berita seputar roda empat dari mobil pen...










