OTODRIVER - Timur Tengah kian memanas menyusul konflik yang terjadi di kawasan tersebut.
Kondisi ini menjadi lebih berat saat terjadi penutupan Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur distribusi dan perdagangan dari negara di kawasan Teluk Persia.
Salah satu yang dikhawatirkan berdampak adalah industri otomotif. Situasi konflik ini berpotensi menghambat aktifiktas ekspor dan rantai pasok ke wilayah tersebut.
“Hingga saat ini, situasi di Timur Tengah belum berdampak langsung terhadap aktivitas produksi Daihatsu. Namun untuk kendaraan yang diekspor ke pasar Timur Tengah, terdapat tantangan pada sisi logistik pengiriman,” terang Marketing Director dan Corporate Communication Director PT Astra Daihatsu Motor, Sri Agung Handayani kepada Otodriver beberapa waktu lalu.
“Sebagai langkah antisipatif, kami saat ini menyiapkan area penyimpanan sementara bagi kendaraan yang telah diproduksi, sambil terus berkoordinasi dengan prinsipal terkait langkah selanjutnya,” lanjut wanita ramah ini.

Bagi Daihatsu kawasan Timur Tengah merupakan salah satu pasar ekspor penting bagi Daihatsu.
Produk seperti Gran Max merupakan komoditas andalan untuk kawasan tersebut, selain model SUV yakni Terios.
Dari berbagai informasi yang berhasil dirangkum pengiriman mencapai 500 unit per bulan untuk wilayah tertentu di Timur Tengah.
Hingga Agustus 2025, porsi ekspor PT ADM mencapai 32% dari total produksi atau sekitar 77 ribu unit. Secara keseluruhan, Daihatsu telah mengekspor mobil ke lebih dari 65 negara. (SS)










