OTODRIVER – Ada yang menarik dari kehadiran Toyota Land Cruiser 300 Hybrid di GIIAS 2026. Bukan cuma soal kembalinya mesin bensin di balik kap SUV legendaris tersebut, tetapi juga soal sejarah yang seperti berulang.
PT Toyota-Astra Motor (TAM) kini kembali menawarkan Land Cruiser dengan mesin bensin. Bedanya, kali ini bukan sekadar mesin berkapasitas besar, melainkan sudah ditemani teknologi hybrid.
Pada GIIAS 2026, Land Cruiser 300 Hybrid hadir dalam dua varian, yakni VX-R dan GR-S. Keduanya sekaligus menjadi varian dengan karakter performa paling tinggi di jajaran Land Cruiser yang dipasarkan Toyota Indonesia.
Land Cruiser 300 Hybrid VX-R dibanderol Rp2,716 miliar, sedangkan GR-S dilepas Rp2,816 miliar. Keduanya merupakan harga on the road (OTR) Jakarta.
Dengan sistem parallel hybrid, mesin bensin V6 3.500 cc twin-turbo menyumbang tenaga 305 kW atau 415 PS dan torsi 650 Nm. Sementara itu, satu motor listrik memberikan tambahan tenaga 36 kW atau 49 PS serta torsi 250 Nm.
Jika digabungkan, tenaga sistemnya mencapai 341 kW.
Angka tersebut membuat Land Cruiser 300 Hybrid bukan cuma menjadi pilihan bagi mereka yang mencari kemewahan, tetapi juga menawarkan performa yang cukup buas untuk ukuran sebuah SUV yang bobotnya tak bisa dibilang ringan.
Namun, ada satu hal yang membuat kehadiran Land Cruiser bermesin bensin kali ini terasa spesial.

Bukan yang Pertama
Ini bukan kali pertama Toyota membawa Land Cruiser bermesin bensin ke Indonesia.
Jauh sebelum era elektrifikasi seperti sekarang, Toyota pernah menghadirkan Land Cruiser dengan mesin bensin melalui generasi Land Cruiser 100. Salah satu yang paling menarik adalah Land Cruiser Cygnus.
Bagi penggemar Land Cruiser lawas, nama Cygnus tentu bukan sesuatu yang asing. Model ini hadir sebagai turunan Land Cruiser 100 dengan pendekatan yang lebih mewah. Bukan hanya soal kemampuan melibas medan berat, tetapi juga bagaimana sebuah Land Cruiser bisa memberikan kenyamanan dan kemewahan kelas atas.

Di balik kapnya, Cygnus mengandalkan mesin bensin V8 berkode 2UZ-FE berkapasitas 4.7 liter. Karakternya jelas berbeda dengan varian diesel yang lebih populer di Indonesia.
Tenaga besar, suara mesin yang lebih halus, serta karakter pengantaran tenaga yang berbeda membuat Land Cruiser bermesin bensin punya daya tarik tersendiri.
Konsekuensinya juga jelas. Pada era tersebut, konsumen yang menginginkan Land Cruiser dengan mesin bensin harus menyiapkan dana lebih besar dibandingkan versi diesel.
Sejarah Mesin Diesel di Klan Land Cruiser Station Wagon
Mesin bensin sebenarnya merupakan cita rasa nenek moyang bagi Land Cruiser, khususnya versi station wagon.
Sejak versi station wagon diperkenalkan pada 1963 melalui FJ43 dan FJ45 Station Wagon, yang akrab dikenal sebagai Kayami, mesin bensin justru menjadi pilihan standarnya. Kala itu, mesin diesel sama sekali belum ditawarkan. Hal tersebut berlanjut hingga 1967 ketika FJ55 diperkenalkan. Model ini juga belum memiliki opsi mesin diesel.

Era diesel baru dimulai ketika Land Cruiser 60 Series diperkenalkan pada 1980. Mesin diesel pertamanya adalah 3B, empat silinder segaris berkapasitas 3.4 liter. Kemudian menyusul mesin enam silinder segaris 2H berkapasitas 4.0 liter yang merupakan mesin buatan Hino.
Sayangnya, Land Cruiser 60 Series tidak pernah hadir secara resmi melalui APM Toyota di Indonesia. Unit yang beredar di Tanah Air umumnya hadir sebagai kendaraan dalam proyek bantuan internasional ataupun kendaraan yang digunakan oleh diplomat negara sahabat.
Kembali ke Land Cruiser 100 dan Cygnus. Model ini menjadi pembuka kembali era Land Cruiser dengan pilihan mesin bensin di Indonesia, setelah sebelumnya pada era Land Cruiser 80 Series tidak ada pilihan mesin bensin yang ditawarkan secara resmi.
Kini, pola tersebut kembali terlihat pada Land Cruiser 300 Hybrid.

Seperti halnya Cygnus pada masanya, Land Cruiser 300 Hybrid ditempatkan sebagai pilihan bagi konsumen yang menginginkan sesuatu lebih dari sekadar sebuah SUV bermesin diesel.
Bedanya, jika dahulu keistimewaan itu datang dari mesin bensin berkapasitas besar, sekarang Toyota menambahkan satu lagi senjata, yakni motor listrik.
Sejarah memang berulang. Hanya saja, kali ini mesin bensin tidak datang sendirian. (SS)











