OTODRIVER – Saat ini rem cakram jamak digunakan oleh banyak produsen otomotif, bahkan boleh dikatakan bahwa semua mobil penumpang sudah menggunakan rem cakram pada bagian depan sebagai standar.
Penggunaannya pun kian tersebar luas digunakan sebagai rem bagian belakang.
Bahkan mobil-mobil LMPV seperti Hyundai Stargazer (walau hanya digunakan beberapa varian atas) sudah penggunaa rem cakram pada keempat rodanya.
Konsep kerja rem cakram ditemukan pertama kali di Inggris pada abad 19 dan kemudian dipatentkan oleh Frederick Willian Lanchseter pada 1902.
Namun penggunaan rem cakram ternyata tak langsung bisa diterima. Keterbatasan material yang ada saat itu meredupkan dalam penggunaannya.
Saat itu rem cakram menggunakan material dari tembaga yang berisik dan mudah aus.
Dalam pengaplikasian, rem cakram jauh lebih mahal dan kala itu belum ada material yang cocok. Kondisi saat itu disebutkan bahwa kaliper rem yang dibuat dari tembaga tidak tangguh dan mudah mengalami keausan.
Dan selama kurang lebih 40-tahunan rem cakram justru ditinggalkan dan industri otomotif lebih memilih rem tromol (drum brake).
Namun demikian, penelitian terkait rem cakram tetap dilakukan dan seiring dengan perkembangan, material baru yakni alumunium mulai diujicoba sebagai kaliper. Alhasil kinerjanya pun jauh lebih baik dari rem cakram generasi perintis.

Crosley Motor Incorporated asal Cincinnati, Ohio AS mulai memperkenalkan Hotshot sebuah mobil roadster pada 1949. Mobil inilah yang menjadi produk pertama produksi massal dalam menggunakan rem cakram.
Kinerja rem cakram dinilai cukup bagus saat digunakan pada mobil sport pertama AS paska perang itu. Namun perlu diingat bahwa Hotshot merupakan mobil kecil sehingga masih diragukan performanya jika digunakan pada mobil berukuran besar.
Pada tahun yang sama Chrysler menghadirkan rem cakram ini pada sedan mewahnya Imperial. Sosoknya yang besar dan bertenaga seolah menjadi media pembuktian teknologi rem cakram ini secara lebih riil.
Imperial dibekali dengan rem cakram pada bagian depan dan rem tromol di bagian belakangnya. Bisa dikatakan bahwa melalui pabrikan 'The Big Three" inilah rem cakram benar-benar mendapatkan atensi bagi pabrikan otomotif.
Aplikasi pada Chrysler Imperial kemudian diikuti oleh pabrik lainnya. Namun karena biayanya yang mahal, teknologi ini tak langsung merakyat. Bahkan hingga 30 tahun kemudian masih ada mobil diproduksi dengan rem tromol pada keempat rodanya.
Baru saat memasuki era 90-an rem cakram di bagian depan digunakan sebagai standar keamanan secara global.

Keunggulan rem cakram
Rem tromol punya kelemahan yang fundamental dari sisi performa. Panas yang disebabkan pada proses pengereman tidak bisa lekas dirilis.
Iapun punya masalah serius ketika menerjang air, di mana air dan kotoran bisa terjebak di dalam perangkat rem dan menyebabkan gagal pengereman.
Sebaliknya, rem cakram mampu membuang panas lebih cepat karena posisinya terbuka, tidak rentan akan kotor, dan lebih mudah dirawat.
Jenis rem cakram ini pun lebih mudah dikembangkan dalam hal performa, terutama yang terhubung dengan proses pendinginan dan performa.
Autodoc.uk mengatakan bahwa cakram punya potensi pengembangan yang lebih mudah. Penambahan lobang-lobang pada cakram dengan tujuan heat release yang lebih cepat sangat memungkinkan untuk dilakukan.
Selain itu, rem cakram juga lebih luwes dalam penggunaan material mulai dari baja hingga rem karbon.
Dengan demikian, cukup memudahkan dalam melakukan upgrade performa remnya. (SS)












