OTODRIVER - Tepat tanggal 1 Juli 2026, akan hadir bahan bakar baru yaitu Biosolar B50 yang mengandung bahan dari kelapa sawit.
Bahan bakar baru itu akan menggantikan BBM sejenis dengan kode B40, yang menurut Pakar konversi energi sekaligus dosen senior Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) ITB, Tri Yuswidjajanto Zaenuri, akan dihabiskan stoknya secara total dari seluruh Indonesia sapai bulan September 2026.
Diutarakan lagi oleh pria yang akrab dipanggil Pak Yus itu, ada sejumlah hal yang perlu dipahami oleh pengguna kendaraan diesel sebelum mengonsumsi B50.
Disebutkannya, saat ditemui langsung pekan lalu (27/6/2026), paling tidak akan terasa ada penurunan performa mesin disertai konsumsi bahan bakar yang lebih boros adalah potensi sinyal awal dari pemakaian B50. Akan lebih terasa jika sebelumnya mengonsumsi solar sekelas Pertamina Dex.
Jika ada ide liar untuk mencampur B50 dengan solar sekelas Pertamina Dex juga diiingatkan oleh Yus tidak akan berpengaruh banyak jika yang dikejar adalah performa sekaligus tingkat konsumsinya seperti menggunakan bahan bakar Pertamina Dex tadi.
Belum lagi, karena ada kandungan nabati pada B50 maka kepedulian untuk melakukan pembersihan komponen internal, setidaknya pada komponen-kompenen berjuluk filter atau saringan, perlu lebih diperhatikan.
Secara awam, bahan bakar dengan kandungan nabati dari tanaman kelapa sawit itu punya tabiat dalam hal higroskopis alias mudah menyerap air.
Ada potensi menggumpal jadi cairan padat atau jeli.
Selain itu karena sifatnya yang mengikat kotoran maka konsumsi solar nabati bias melarutkan lemak nabati yang kemudian dapat menyumbat saluran yang mengairkan bahan bakar.
Begitu pula soal korosi akibat tingginya kadar air, terlebih pada sistem pasokan bahan bakar bertekanan tinggi seperti common rail.
Meski begitu, Yus yang juga kerap membantu pihak Pertamina dalam pengujian bahan bakar dan pelumas, menyatakan bahwa pemakaian B50 akan punya pengaruh banyak dalam upaya untuk menekan angka emisi dari gas buang kendaraan bermotor.

Potensi penambahan biaya perawatan kendaraan diesel
Pemahaman dasar soal karakter dari B50 yang berimbas pada peluang untuk melakukan perawatan ekstra terhadap mesin diesel memang menjadi risiko yang tidak bisa dihindari.
Seperti juga diungkapkan oleh Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astuti, yang mengatakan ada potensi peningkatan biaya operasional seiring konsumsi B50.
Esther menuturkan lagi, seperti dikutip dari Antara (29/6/2026), biaya tersebut diperlukan untuk pemeliharaan mesin kendaraan, terutama bagi mesin-mesin diesel lama yang tidak dirancang untuk menggunakan campuran minyak nabati berkadar tinggi.
Setidaknya, masih menurut Esther, pada operasional kendaraan dalam kondisi yang berat seperti di wilayah pertambangan berisiko meningkatkan biaya pemeliharaan mesin hingga 10 persen.
Serupa dengan Esther, Senior Analys PCO & Specialties PT. Pertamina Lubricants, Mulianto, yang ditemui pekan lalu (27/6/2026), memberikan panduan mudah meskipun secara waktu serta tenaga, dan juga biaya, akan berpotensi ada penambahan dalam hal pemeliharaan mesin diesel yang mengonsumsi B50.
Paling tidak perlu lebih cermat dalam pemilihan pelumas mesin yang sesuai dengan spesifikasi kendaraan.
Di pasaran tersedia oli mineral dan sintetik, oli mineral akan maksimal penggunaannya sampai rentang jarak berkendara 5.000 kilometer. Untuk oli jenis sintetik akan punya rentang pemakaian antara 7.500-10.000 kilometer.
Mulianto kembali mengingatkan, pelumas jenis mineral hanya bisa direkomendasikan untuk mesin diesel konvensional dan non-turbo. Sementara untuk jenis sintetik peruntukkannya untuk mesin diesel turbo dan generasi terbaru.
Untuk komponen utama maupun tindakan yang perlu lebih diperhatikan; cek selalu kondisi filter solar, pembersihan deposit karbon dan material lain pada saluran bahan bakar, perhatikan kondisi komponen peningkat daya jika ada seperti turbocharger bawaan pabrik, dan jangan lengah atas komponen-komponen pengatur suhu mesin. (EW)









