OTODRIVER – BYD Motor Indonesia memastikan tidak lagi melakukan impor mobil secara utuh atau Completely Built Up (CBU) dari China. Langkah ini dilakukan seiring dimulainya fase produksi lokal BYD di Indonesia.
Head of Public Relations and Government Relations BYD Motor Indonesia, Luther T Panjaitan, mengatakan BYD sebelumnya mendapatkan kuota impor CBU sebanyak 100 ribu unit. Namun, kuota tersebut tidak seluruhnya digunakan.

“Pada saat ini setelah kita kalkulasi total-total kita hanya impor sebanyak 92 ribu dari total 100 ribu kuota itu,” ujar Luther saat ditemui di Subang, Jawa Barat.
Dengan demikian, masih terdapat sekitar 8.000 unit kuota impor yang tidak digunakan oleh BYD.
Lebih lanjut, Luther menegaskan bahwa BYD kini sudah menghentikan aktivitas impor kendaraan CBU ke Indonesia.
“Sudah enggak sama sekali (impor CBU-red),” tegasnya.
Keputusan tersebut sejalan dengan dimulainya produksi kendaraan BYD di fasilitas manufaktur yang berlokasi di Subang, Jawa Barat. Pabrik ini menjadi basis produksi BYD untuk memenuhi kebutuhan pasar Indonesia sekaligus mendukung peningkatan tingkat kandungan lokal.
Sebelumnya, BYD mengandalkan skema impor CBU untuk memasarkan sejumlah produknya di Indonesia sejak resmi hadir pada awal 2024. Dengan beralih ke produksi lokal, rantai pasok BYD di Tanah Air kini secara bertahap diarahkan untuk tidak lagi bergantung pada kendaraan yang didatangkan secara utuh dari China.
Meski demikian, penghentian impor CBU ini bukan berarti seluruh model BYD yang beredar di Indonesia langsung berasal dari produksi lokal. Implementasi produksi dan pemenuhan komponen lokal dilakukan secara bertahap sesuai dengan strategi manufaktur BYD di Indonesia.
Langkah tersebut juga menjadi bagian dari transisi BYD dari model bisnis berbasis impor menuju manufaktur lokal. Dengan kapasitas produksi yang disiapkan cukup besar, pabrik BYD di Subang nantinya diharapkan mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik sekaligus membuka peluang ekspor ke negara lain di kawasan Asia Tenggara. (AW)











