OTODRIVER - BYD resmi memasuki era produksi lokal di Indonesia. Sejumlah model BYD kini mulai diproduksi di fasilitas perakitan yang berlokasi di Subang, Jawa Barat.
Dengan status produksi lokal tersebut, muncul pertanyaan apakah harga mobil BYD di Indonesia bakal ikut turun dibandingkan sebelumnya yang masih didatangkan secara utuh atau Completely Built Up (CBU).

Namun, BYD Motor Indonesia menyebut perpindahan dari CBU menuju produksi lokal tidak serta-merta membuat struktur harga kendaraan berubah.
Head of Public Relations and Government Relations BYD Motor Indonesia, Luther T. Panjaitan, menjelaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan mekanisme kebijakan fiskal agar proses transisi dari impor CBU menuju produksi lokal dapat berlangsung secara mulus.
"Sebenarnya begini, BYD ini transisi dari CBU dan mengarah ke local production itu ada situasi yang sengaja dibentuk melalui mekanisme kebijakan fiskal agar smooth perpindahannya," ujar Luther ketika diwawancarai di pabrik BYD di Subang Jawa Barat, Kamis (3/9).
Menurutnya, terdapat insentif yang diberikan dengan kompensasi investasi sehingga struktur fiskal antara kendaraan yang diimpor dan yang diproduksi di dalam negeri pada masa transisi tersebut relatif sama.
"Jadi ada insentif dengan kompensasi investasi, sehingga membuat struktur fiskalnya itu sama impor dan produksi sini. Artinya berarti tidak ada perubahan," lanjutnya.
Dengan kondisi tersebut, produksi lokal belum tentu langsung memberikan dampak terhadap penurunan harga jual mobil BYD di Indonesia. Meski demikian, Luther menilai secara ideal memang terdapat potensi perubahan harga apabila produksi lokal sudah berjalan dengan volume yang memadai.
Ia menyebut salah satu faktor penting dalam menentukan harga kendaraan bukan hanya lokasi produksinya, melainkan volume produksi yang dapat dicapai.
"Karena sebenarnya harusnya idealnya itu ada perubahan. Tapi saya beri tahu kepada teman-teman, komponen pembentuk harga itu sebenarnya harusnya volume," kata Luther.
Menurutnya, produksi lokal dengan volume yang rendah justru berpotensi membuat biaya produksi per unit menjadi lebih tinggi. Kondisi tersebut tentu berlawanan dengan anggapan bahwa produksi di dalam negeri otomatis membuat harga kendaraan lebih murah.
"Kalau berbasis produksi tapi kita enggak dapat volume-nya, juga akan malah menciptakan harga yang jauh lebih mahal," jelasnya.
Artinya, peluang harga mobil BYD menjadi lebih kompetitif tetap terbuka seiring meningkatnya kapasitas dan volume produksi di Indonesia. Namun, penurunan harga bukan menjadi konsekuensi otomatis hanya karena mobil tersebut sudah dirakit secara lokal. (AW)











