OTODRIVER – Selama ini asisten suara di mobil sering terasa seperti robot yang kaku. Perintah harus diucapkan dengan kalimat baku, dan sedikit saja salah ucap, mobil langsung bingung. Omoda O4 mencoba keluar dari pola itu lewat Super AI Cockpit (SIAS). Otodriver berkesempatan menjajal sistem ini langsung di markas Chery di Wuhu, Anhui, China [20/10/2026). Ada satu klaim menarik dari sana: versi untuk Indonesia disebut lebih responsif.
Namun pengalaman kami saat mencoba teknologi ini belum sepenuhnya sesuai ekspektasi. Dalam pengujian yang dilakukan dalam kondisi mobil statis, respons sistem AI terasa belum terlalu sigap. Simulasi yang kami lakukan pun belum sepenuhnya sinkron dengan kondisi nyata yang diharapkan.

Ada kemungkinan hal ini berkaitan dengan unit yang digunakan. Mobil demonstrasi tersebut diduga merupakan spesifikasi untuk pasar Thailand, sehingga belum tentu menggunakan konfigurasi perangkat lunak yang sama dengan versi Indonesia.
Namun demikian, pihak Omoda-jaecoo Indonesia mengatakan bahwa Fitur AI yang ada di Omoda 04 untuk pasar Indonesia sudah lebih responsif dan juga bisa menggunakan bahasa Indonesia. Hal ini dikarenakan pengembangan yang saat ini dilakukan lebih difokuskan pada pasar Indonesia.

Lalu bagaimana cara mengakses AI pada Omoda O4? Pengguna cukup melakukan proses login data, cukup menyebut “Halo Omoda” maka sistem akan mengenali suara satu pengguna dan langsung terkoneksi. Lalu apakah sistem ini dapat mendeteksi perintah lain? Ya, sistem ini dirancang untuk mengenali beberapa orang sekaligus melalui profil suara masing-masing. Hanya saja, sistem tidak bisa menerima perintah dari dua orang secara bersamaan. Jika pengguna lainnya ingin mengakses sistem, cukup mengawali dengan “Halo Omoda,”
Masih terus dikembangkan
Meski demikian, tentu pengalaman kami di China tidak serta-merta menggambarkan kemampuan akhir teknologi AI yang akan digunakan pada Omoda O4 di Indonesia.
Teknologi AI di dalam mobil memang tidak hanya bergantung pada kemampuan perangkat keras. Pengembangan perangkat lunak, pengenalan bahasa, pemahaman perintah, serta penyesuaian terhadap kebiasaan pengguna turut menentukan kualitas interaksi.
Kini, menarik untuk menunggu bagaimana sistem tersebut bekerja dalam penggunaan sehari-hari di Indonesia.(SS)











