OTODRIVER – Toyota Land Cruiser FJ memang berhasil mencuri perhatian sejak diperkenalkan. Namun, di mata para penggemar Land Cruiser, kehadirannya justru memunculkan respons yang beragam.
Nama Land Cruiser sendiri sudah sangat kuat. Generasi seperti 40 Series, 70 Series, 80 Series hingga 100 Series memiliki karakter desain yang identik dengan sosok tangguh dan kemampuan melahap medan berat.
Kini Toyota mencoba menerjemahkan karakter tersebut ke dalam sosok yang lebih kompak.
Land Cruiser FJ (kita sebut sebagai LC-FJ) memiliki panjang 4.575 mm, lebar 1.855 mm, tinggi 1.960 mm dan wheelbase 2.580 mm. Ukurannya bahkan lebih pendek dan ramping dibandingkan Land Cruiser 250 Series.
Di balik kap mesinnya terdapat mesin bensin 4-silinder 2,7 liter berkode 2TR-FE. Mesin naturally aspirated tersebut menghasilkan tenaga 163 PS dan torsi 246 Nm, yang disalurkan melalui transmisi otomatis 6-percepatan ke sistem penggerak 4WD part-time.
Karakter tersebut menunjukkan bahwa LC-FJ tetap memegang teguh doktrin Land Cruiser sebagai kendaraan tangguh segala medan. Perangkat off-road modern pun disisipkan Toyota, seperti Downhill Assist Control (DAC), Hill Start Assist (HAC), Active Traction Control serta electric rear differential lock.
Namun, justru desain menjadi bagian yang paling banyak diperbincangkan.
Hartawan Setjodiningrat, salah satu penggemar berat Land Cruiser dan kolektor mobil antik menilai LC-FJ memberikan sesuatu yang baru. Hanya saja, menurutnya, desain tersebut bukan tipe yang langsung disukai sejak pandangan pertama.
"Saya belum lihat detail, namun dari sisi desain sepertinya Land Cruiser FJ memberikan sesuatu yang baru. Bukan desain mobil yang langsung disukai, tapi butuh waktu untuk itu," ujarnya.
Pendapat berbeda disampaikan pebengkel yang banyak menangani kendaraan 4x4 Widodo Teguh dari ProRock Engineering, Solo. Menurutnya, nama besar Land Cruiser tetap menjadi modal utama LC-FJ.
"Land Cruiser tetaplah Land Cruiser, nama yang cukup menjual. Saya belum detail melihat, tapi sepertinya model ini masuk kelas light duty seperti Prado. Bahkan mesin dan drivetrain-nya sama Prado 150," kata pria yang punya panggilan Jujo ini.
Desain Yang Unik
Sementara itu, Heri Budiarso mengaku masih belum bisa menerima bahasa desain LC-FJ. Ia bahkan melihat adanya kemiripan karakter dengan Hilux Rangga.
"Saya belum bisa mencerna desainnya. Yang kebayang selalu Hilux Rangga. Mungkin karena saya lebih terbiasa dengan 40 Series, 70 Series, 80 Series atau 100 Series. Kurang gagah dan kesannya culun," ujar pria yang pernah berkarier di perusahaan perminyakan nasional ini.
Komentar tersebut cukup menggambarkan tantangan Toyota. LC-FJ harus membawa nama besar Land Cruiser, tetapi pada saat yang sama hadir dengan pendekatan desain yang berbeda dari generasi yang sudah lebih dahulu dicintai para penggemarnya.
Meski demikian, ada juga yang melihat FJ dari sisi yang lebih pragmatis.
Zaenal Arifin, yang memiliki Land Cruiser dari berbagai model berharap Toyota dapat memosisikan LC-FJ dengan harga yang lebih terjangkau sehingga semakin banyak orang bisa memiliki Land Cruiser.
"Saya harap harganya akan bagus dan terjangkau. Dengan demikian membuka kesempatan semakin banyak orang memiliki Land Cruiser. Nama yang jadi legenda," kata pria yang berkarier di bidang alat kesehatan ini.
"Kalo harganya masuk akal, saya akan langsung pesan," jelasnya.
Performa Juga Jadi Perhatian
Tidak hanya desain, pilihan mesin FJ juga menjadi bahan pembicaraan.
Wahyu Lamban dari Lamban Garage Yogyakarta menilai model ini merupakan salah satu Land Cruiser yang cukup kontroversial karena respons terhadap desainnya terbelah.
"Wah, ini model yang mengundang kontroversi. Banyak yang suka dan sebaliknya. Tapi menurut saya pribadi masih kurang sreg dengan desainnya. Mengenai performa akan lebih nendang jika ada versi dieselnya," ujar pebengkel dan juga off-roader ini.
Dengan mesin 2,7 liter bensin, sistem 4WD part-time, serta sejumlah perangkat pendukung off-road, secara teknis FJ tetap membawa DNA dasar Land Cruiser. Toyota sendiri menyebut model ini dikembangkan untuk mempertahankan tiga karakter utama Land Cruiser, yakni reliabilitas, durabilitas dan kemampuan melibas medan berat.
Namun, FJ memang mengambil jalan yang berbeda. Bodinya dibuat lebih kompak dan mudah dikendalikan, sementara desainnya mencoba menggabungkan karakter tradisional Land Cruiser dengan pendekatan yang lebih modern.
Pada akhirnya, FJ mungkin memang membutuhkan waktu untuk diterima.
Sebab bagi penggemar Land Cruiser, yang dibandingkan bukan hanya spesifikasi atau kemampuan off-road. Ada sejarah panjang yang ikut menjadi tolok ukur ketika sebuah model baru menyandang nama Land Cruiser. (SS)
