OTODRIVER – Setelah B50, pemanfaatan bahan nabati juga segera diterapkan pada BBM jenis bietanol. Seperti diutarakan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, pekan ini (9/7/2026), dimana pemerintah akan mewajibkan bioetanol atau bensin yang dicampur dengan etanol dengan kode E10 pada 2027.
Penjelasan yang diutarakan di sela-sela peluncuran resmi Biosolar B50 itu juga menguraikan rincian tahapan penerapannya. Untuk tahap pertama, akan mewajibkan campuran etanol sebesar 10–20 persen, diharapkan campuran etanol dapat terus meningkat, sebagaimana yang kini diterapkan dalam B50.
Saat ini kewajiban penggunaan bensin dengan campuran etanol sebesar lima persen atau E5 itu sendiri sudah dimulai per Juli 2026 untuk beberapa lokasi.
Wilayah yang sudah bisa melayani pembelian BBM E5 dengan nama Pertamax Green meliputi Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Bali, dan Lampung.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menguraikan penerapan bertahap atas penggunaan E5 mulai Juli 2026 disebabkan masih ada keterbatasan pasokan bahan baku etanol.
Toyota ikut berperan dalam pengembangan bioetanol di Indonesia
Seperti pemakaian kelapa sawit sebagai salah satu bahan biosolar, pemanfaatan tanaman tebu adalah materi fermentasi molase sebagai zat penambah oktan alami untuk kemudian diolah bersama BBM RON 92 sebagai materi dasar dari bahan bakar.
Pemberian aditif tambahan untuk mencegah korosi tangka bahan bakar dan komponen mesin juga dilakukan. Hasil dari seluruh rangkaian proses tadi berupa satu jenis BBM dengan RON 95 yang saat ini beredar dengan nama Pertamax Green. Pengembangan bahan dasar etanol kemudian menjadi bioetanol tentu saja butuh penanganan yang terpadu, mulai dari hulu sampai hilir.
Salah satu wilayah yang akan jadi lumbung bioetanol adalah Provinsi Lampung, ada satu pabrik bioetanol terintegrasi yang bisa dijadikan contoh hilirisasi sektor perkebunan sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Pabrik tersebut, seperti dikutip dari Antara, merupakan kolaborasi Pemerintah Provinsi Lampung, PT Pertamina New and Renewable Energy (PNRE), dan PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN).
Salah satu alasan terpilihnya wilayah Lampung karena punya potensi bahan baku yang kuat, baik dari molases tebu, sorgum, maupun limbah biomassa yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan bioetanol generasi pertama dan generasi kedua.
Lokasi Pertamax Green di wilayah Jakarta
Berdasarkan data dari akun Instagram Pertamaxseries, di wilayah Jakarta Selatan bisa menyambangi SPBU; 3112802-MT Haryono, 3112401-Fatmawati Cilandak, 3112204-Iskandar Muda Kebayoran Lama, 3112402 Fatmawati No 16-19, 3112601-Lenteng Agung Jagakarsa, 3412301-Raya Bintaro Veteran, 3412115-Radio Dalam Gandaria, 3412703-Raya Pasar Minggu, 3412412 Raya Kartini Cilandak Barat, 3412105-Bangka Raya Kemang, 3412208-Raya Ciputat, 3412401 Karang Tengah Lebak Bulus.
Di area Jakarta Barat, lokasi SPBU Pertamina yang terdapat dispenser untuk Pertamax Green 95 ada di; 3411502-Green Garden, 3111403-Daan Mogot Jelambar, 3111401-S.Parman Slipi, 3411608-Pos Pengumben Srengseng, 3111802-Daan Mogot KM.16 Kalideres, 3412205-Palmerah Barat.
Wilayah Jakarta Timur, lokasi untuk BBM Pertamax Green 95 ada di; 3413802-Raya Pondok Gede, 3113902-Raya Bekasi KM.21, 3413811-Raya Bina Marga Ceger, 3413809 Rest Area Tol Jagorawi KM.10, 3413209-Pemuda No.40-14 Rawamangun, 3413306-Raya Jatinegara Timur No.54.
Kawasan Jakarta Pusat, lokasi SPBU-nya di; 3410505-Letjen Suprapto No.56, 3110701-Industri Kemayoran, 3110202-Abdul Muis Gambir, 3410205-Cideng Timur No.50, 3110303-Cikini Raya, 3110702-Samahudi Pasar Baru, 3110703-Mangga Besar Raya No.104.
SPBU Pertamina di Jakarta Utara; 3114301-Yos Sudarso Sunter, 3414416-Pluit Permai Raya, 3414306-Danau Sunter Selatan, 3414205-Boulevard Timur Kelapa Gading, 3314401-Pluit Raya No.3 Penjaringan, 3414209-Logistik Pegangsaan 2 Tugu. (EW)
