OTODRIVER –Sekolah Alam Anak Pesisir di Desa Cendi Manik, Nusa Tenggara Barat (NTB), menghadirkan metode pembelajaran berbasis alam yang menggabungkan pendidikan, pelestarian lingkungan, dan pengembangan ekonomi lokal. Program yang berjalan sejak 2024 ini menjangkau 135 penerima manfaat.
Didukung PT Pertamina Patra Niaga, program tersebut menjadikan kawasan mangrove dan pesisir sebagai ruang belajar bagi anak-anak. Mereka diajak mengenal ekosistem, merawat lingkungan, mengembangkan kreativitas, hingga memahami potensi ekonomi di wilayah tempat tinggalnya.
“Melalui Program Sekolah Alam Anak Pesisir, kami ingin menghadirkan ruang belajar yang tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan, kreativitas, dan kemandirian anak-anak. Kami percaya bahwa pemberdayaan yang mengintegrasikan pendidikan, ekologi, dan ekonomi dapat menciptakan dampak berkelanjutan bagi masyarakat pesisir,” ujar VP Community Involvement Development PT Pertamina Patra Niaga, Dian Hapsari Firasati.
Dalam aspek lingkungan, program ini telah mendukung penanaman 4.500 bibit mangrove untuk rehabilitasi kawasan pesisir. Sementara di bidang pendidikan, sebanyak 1.772 peserta telah mengikuti 11 kegiatan pembelajaran pesisir, dengan kunjungan ke destinasi edukasi mangrove dan pesisir mencapai 860 kali per tahun.
Program ini juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. Kelompok berbasis potensi lokal memperoleh tambahan pendapatan Rp24 juta per tahun, sedangkan pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) membantu menghemat biaya energi hingga Rp6,6 juta per tahun.
Pendekatan pembelajaran yang diterapkan mengusung konsep 3E, yaitu Ekologi, Edukasi, dan Ekonomi. Anak-anak belajar melalui aktivitas langsung, mulai dari menanam mangrove, mengenal lingkungan pesisir, hingga mempelajari potensi ekonomi lokal.
Inisiatif ini berawal dari Sanggar Belajar Jalan Pulang yang dirintis Zahit Idris pada 2022 untuk membantu anak-anak di Desa Cendi Manik yang memiliki keterbatasan akses pendidikan. Awalnya, kegiatan belajar hanya diikuti delapan anak dan berlangsung di musala.
Seiring perkembangannya, program membangun Rumah Literasi pada 2024, menyusun Kurikulum 3E pada 2025, serta mengembangkan Pertakid sebagai media pembelajaran pada 2026.
Melalui pendekatan tersebut, Sekolah Alam Anak Pesisir diharapkan menjadi ruang belajar yang tidak hanya memperluas akses pendidikan, tetapi juga menumbuhkan kepedulian lingkungan dan mendukung kemandirian masyarakat pesisir. (AW)
