OTODRIVER - Pertamina Patra Niaga melalui Aviation Fuel Terminal (AFT) Bandara Internasional Lombok (BIL) menghadirkan program Galeri Mina Tenun di Desa Sukarara, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Program ini menggabungkan pemberdayaan perempuan penenun, peningkatan nilai jual kain tradisional, serta pemanfaatan energi terbarukan untuk mendukung akses air bersih.
Program ini hadir untuk mengatasi keterbatasan ekonomi yang dihadapi masyarakat setempat, termasuk purna Pekerja Migran Indonesia (PMI). Sebelumnya, sebagian penenun hanya menerima upah sekitar Rp 25.000 per lembar kain dan harus bergantung pada pengepul untuk menjual hasil produksinya.
Dian Hapsari Firasati, mengatakan program ini bertujuan memperkuat potensi lokal sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Melalui Galeri Mina Tenun, kami berupaya membuka akses ekonomi yang lebih baik bagi perempuan penenun, sekaligus mengembangkan potensi lokal melalui inovasi yang mengintegrasikan budaya dan energi terbarukan,” ujar Dian Hapsari Firasati, VP Community Involvement Development Pertamina Patra Niaga.
Tak hanya berfokus pada ekonomi, Pertamina Patra Niaga AFT BIL juga memodifikasi alat tenun bukan mesin (ATBM) agar gerakan mekanis saat menenun dapat menghasilkan energi listrik. Energi tersebut dimanfaatkan untuk mendukung pengoperasian pompa air dan sistem filtrasi.
Inovasi ini turut didukung pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pertamina Patra Niaga.
Melalui Mina Tenun, Pertamina Patra Niaga berupaya mengintegrasikan pelestarian budaya, pemberdayaan ekonomi perempuan, dan pemanfaatan energi bersih. Program ini diharapkan memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat sekaligus mendukung komitmen perusahaan terhadap pemberdayaan sosial dan kelestarian lingkungan. (AW)
