OTODRIVER - Mobil dengan teknologi elektrifikasi sudah menjadi bagian dari ekosistem kendaraan bermotor di Indonesia. Salah satu yang sohor adalah mobil hybrid.
Namun perlu diketahui bahwa saat ini pada dasarnya mobil hybrid terbagi jadi dua macam.
Pertama adalah hybrid series dan kedua pararel hybrid. Keduanya tergolong pada jenis hybrid electric vehicle (HEV) hanya saja punya cara kerja yang beda.
Series Hybrid
Jenis series hybrid merupakan pionir bagi teknologi hybrid. Ia dianggap sebagai ibu dari semua jenis hybrid yang ada saat ini.
Pertama kali diperkenalkan pada 1900 atau 1901 melalui Lohman-Porsche Mixte.
Mobil hasil kolaborasi Ferdinan Porsche dan seorang pembuat kereta, Jacob Lohman ini menggunakan mesin bakar murni sebagai pengumpan daya bagi motor listrik alias menjadi generator pengisian saja.
Mengutip dari Car&Drive membeberkan bahwa metode hibrida seri ini mesin bakar tidak memiliki hubungan sama sekali untuk menggerakkan kendaraan. Kinerjanya hanya untuk mengecas baterai saja.
Dengan demikian, sistem ini memiliki kinerja mesin yang stabil dan hanya berputar pada rentang putaran tertentu.
Prinsip ini juga digunakan pada kereta api diesel-elektrik memiliki karakteristik penggunaan yang stabil dan tidak memiliki dinamika pergerakan yang agresif.
Seperti penggunaan di dalam kota yang tidak terlalu memerlukan akselerasi tiba-tiba dan kecepatan tinggi.
Nissan dianggap sebagai pelopor Series Hybrid di era modern dengan hadirnya teknologi yang mereka sebut sebagai e-Power.
Di Indonesia, kita kenal model hybrid series milik Nissan ini pada produk-produk seperti Kicks e-Power, Serena e-Power hingga X-Trail e-Power.
Paralel Hybrid
Pararel hybrid punya metode yang beda dengan Series Hybrid.
Sistem parallel hybrid menggunakan mesin dan satu atau lebih motor listrik untuk menggerakkan roda, baik bersama-sama maupun terpisah.
Jika mobil beroperasi pada kecepatan rendah, dengan beban yang ringan, maka motor listrik akan bekerja sendirian dalam menggerakkan mobil.
Namun jika kemudian ada tambahan kinerja, semisal menyalip dengan tiba-tiba, mendapat beban lebih berat atau mobil menghadapi jalanan menanjak, maka mesin bakar akan menyala.
Tugasnya adalah memberi tambahan daya untuk memutar daya dan sekaligus melakukan charging.
Sistem ini dikatakan lebih rumit dari series hybrid karena membutuhkan kinerja perangkat lunak yang komplek untuk mengatur daya dan penyaluran daya.
Toyota menjadi pelopor bagi teknologi ini, tepatnya pada Prius di tahun 1997
Kunci efisiensi pararel hybrid adalah kemampuannya untuk menangkap kembali energi dari momentum yang seharusnya terbuang pada saat pengereman.
Motor listrik dapat langsung beralih dari menyalurkan daya ke menghasilkan daya, dan pengereman regenerative menggunakan motor sebagai generator saat mobil melambat mengisi ulang baterai untuk menyimpan energi tersebut.
Pengereman regenerative ini kemudian juga diaplikasikan pada metode series hybrid yang ada saat ini.
PerkembanganKedua Metode
Innovasi menjadi mendorong perkembangan teknologi pada kendaraan.
Teknologi
Baik sistem series hybrid ataupun pararel hybrid kemudian mendapat perkembangan lebih lanjut.
Kemudian muncul plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) yang pada dasarnya adalah mobil hybrid pararel yang dijejali dengan baterai yang lebih besar dan bisa dicas.
Lantas muncul lagi REEV yang pada dasarnya adalah mobil hybrid series yang diberi baterai besar dan bisa dicas. (SS)
