OTODRIVER – Panel instrumen layar penuh kini jadi pemandangan biasa di mobil baru. Padahal konsep speedometer digital sudah muncul hampir setengah abad lalu. Awal perjalanannya jauh dari mulus.
Mengutip dari autocar.co.uk, Aston Martin Lagonda Series 2 diperkenalkan pada Pameran Otomotif London 1976 dan jadi mobil produksi pertama dengan dasbor digital. Bukan sekadar angka kecepatan, Lagonda juga membawa kontrol sentuh untuk berbagai fungsi.
Sayangnya, teknologi ini terlalu dini. Pengiriman baru dimulai akhir 1979 karena layar digitalnya sulit dibuat berfungsi dengan benar. Versi pertama buatan Cranfield Institute rumit sehingga Aston Martin harus menggandeng perusahaan lain. Harga mobil pun tembus dua kali lipat, dari £20.000 pada 1976 menjadi sekitar £50.000 pada 1979.
Walau tak sederhana dan syarat dengan masalah, namun pada kenyataannya jenis speedometer ini tetap mendapatkan atensi. Salah satunya karena dianggap mewakili dunia modern.
Setelah nongol di Inggris, beberapa tahun kemudian, pabrikan lain ikut mencoba. Penerapan pertama dari pabrikan Amerika adalah Cadillac Seville 1978 dengan opsi Cadillac Trip Computer. Pada 1983, Renault 11 Electronic menjadi hatchback Eropa pertama dengan dasbor digital.
Puncak popularitasnya terjadi di era 1980-an. Chevrolet Corvette C4 jadi mobil pertama dengan panel instrumen tiga layar LCD sebagai perlengkapan standar. Tampilannya serba kotak dan futuristik, sampai dijuluki “Atari dash” oleh penggemarnya. Sebagai informasi, Atari adalah permainan video game personal yang terkenal di era 70 dan 80-an.
Singkatnya dasbor dengan instrument digital bukan barang yang cukup digemari industri otomotif. Teknologi saat itu masih menjadi pembatasnya bahkan sempat dianggap 'gimmick’.
Seiring dengan perkembangan teknologi dan digital, nasib speedometer digital pun mengarah ke nasib yang lebih baik. Di era 2000-an, Lexus LFA 2009 termasuk yang lebih dulu memakai kokpit layar LCD modern. Lexus menyebut jarum takometer analog tak sanggup mengikuti perubahan putaran mesinnya yang sangat cepat.
Pengaplikasian speedometer LFA ini bagai kotak Pandora yang membuka penggunaannya secara lebih luas. Sejak itu, pabrikan berlomba menghadirkan layar yang makin besar, tajam, dan bisa disesuaikan, seperti Audi virtual cockpit.
Kisah speedometer digital menunjukkan bahwa ide bagus belum tentu langsung meraih kesuksesan. Perkembangan teknologi dengan hadirnya perangkat-perangkat semikonduktor modernlah yang kemudian mewujudkan penggunaan secara luas speedometer digital hingga saat ini. (SS)
