OTODRIVER – Tak perlu dibantah, Indonesia merupakan negara dengan alam yang cukup indah. Akan tetapi di balik paras kecantikannya, di bawah bumi Indonesia ini terhampar cincin api yang membuat negeri kepulauan ini rentan akan bencana alam seperti gempa dan letusan gunung berapi.
Status sebagai negara dengan belasan ribu pulau yang dipisahkan oleh laut dan selat tentu menjadi tantangan tersendiri.
Pada titik ini kendaraan PHEV (Plug-in Hybrid Electric Vehicle) dapat memainkan perannya lebih jauh lagi sebagai bagian dari ekosistem tanggap bencana di tanah air.
PHEV umumnya punya baterai yang cukup besar sehingga mampu menyimpan dan menyalurkan energi listrik. Pada dasarnya mobil ini bisa menjadi sumber listrik bergerak yang dibutuhkan di daerah yang terisolir.

Keberadaan mesin bakarnya menjadi bentuk keluwesan mobil ini, di mana mesin tersebut bisa berfungsi sebagai sumber kelistrikan alias generator. Sehingga lebih praktis, tinggal mengisi bahan bakar dan langsung bisa diajak bertugas. Kepraktisan ini tidak bisa didapatkan pada sebuah mobil listrik murni.
"Mobil seperti PHEV ini lebih punya fleksibilitas terutama untuk memenuhi kebutuhan listrik darurat. Ia bisa digunakan untuk menerobos masuk daerah dan memberikan listrik untuk mendukung kebutuhan listrik di daerah tersebut, ataupun menjadi catu daya untuk peralatan komunikasi," ungkap Wijaya Kusuma Subroto, seorang praktisi keselamatan berkendara dari ORD Training saat ditemui di Bogor, Sabtu (05/09/2026).
"Akan lebih sempurna jika wujudnya adalah kendaraan 4x4 atau AWD. Akan lebih memudahkan dalam menembus daerah yang terisolir," sambungnya.

V2L dan V2H
Kemampuan ini dikenal melalui teknologi V2L (Vehicle to Load) dan V2H (Vehicle to Home). V2L memungkinkan energi dari baterai digunakan untuk menyalakan perangkat listrik secara langsung, sedangkan V2H memungkinkan energi kendaraan dialirkan ke rumah melalui perangkat bidirectional charger.
Dalam kondisi bencana, kemampuan tersebut menjadi sangat relevan. Ketika listrik padam, PHEV dapat digunakan untuk menyalakan lampu, mengisi daya ponsel, laptop, perangkat komunikasi hingga peralatan pendukung lainnya. Mitsubishi, misalnya, menyediakan kemampuan suplai listrik hingga 1.500 watt pada beberapa model PHEV-nya.
Namun bukan berarti semua PHEV otomatis punya V2L dan V2H. Fitur tersebut tergantung desain kendaraan, konektor, perangkat pengubah arus, serta sistem kelistrikan yang digunakan.
V2L biasanya lebih sederhana karena listrik digunakan untuk perangkat langsung dari kendaraan. Sementara V2H membutuhkan sistem bidirectional charger agar energi kendaraan dapat dialirkan ke instalasi rumah secara aman.
Sudah Ada Contohnya
Mengkaryakan PHEV sebagai kendaraan tanggap darurat sudah ada contohnya. Salah satunya pernah dilakukan di Jepang, di mana Mitsubishi Outlander PHEV digunakan sebagai sumber listrik bergerak untuk membantu masyarakat setelah gempa Kumamoto pada 2016 dan gempa Hokkaido Timur pada 2018.
Sedangkan di Indonesia, Outlander PHEV juga pernah disalurkan kepada PMI untuk membantu penerangan di wilayah terdampak gempa Mamuju dan Majene pada 2021 lalu.(SS)












