OTODRIVER - Menjelang peluncuran secara resmi oleh Presiden Prabowo Subianto di bulan Juli ini, pihak Pertamina menegaskan komitmennya untuk menyalurkan solar baru berkode B50 ke seluruh negeri.
Seperti diungkapkan oleh Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, secara infrastruktur Pertamina siap menyalurkan bahan bakar nabati (BBN) biodiesel 50 (B50) khususnya untuk area pulau Jawa.
Keterangan yang disampaikannya pekan ini (2/7/2026) di Jakarta itu juga menambahkan, bahwa pihak Pertamina diberi tenggat waktu oleh pemerintah tiga bulan pada masa transisi untuk melakukan perubahan dari B40 ke B50.
Seperti diktuip dari Antara, berdasarkan Keputusan Menteri ESDM Nomor 257.K/EK.01/MEM.E/2026 tentang Kewajiban Pencampuran Bahan Bakar Nabati Jenis Biodiesel dengan Bahan Bakar Minyak Solar Sebesar 50 persen, terdapat masa transisi bagi badan usaha bahan bakar minyak yang masih memiliki persediaan bahan bakar nabati jenis biodiesel untuk pencampuran sebesar 40 persen atau B40.
Badan usaha yang masih memiliki persediaan B40 diberi kesempatan untuk menyalurkan bahan bakar tersebut sampai dengan tanggal 30 September 2026, sesuai dengan standar dan spesifikasi yang telah ditetapkan.
Sebagai BBM subsidi tetap butuh barcode untuk setiap pembelian B50
Berdasarkan penelusuran informasi, penyebaran solar berspesifikasi B50 sudah tersebar di sejumlah SPBU di area pulau Jawa. Salah satunya di sebuah rest area di ruas tol Trans Jawa.
Sumber Otodriver di salah satu rest area kelas A di wilayah Majalengka, Jawa Barat, menyebutkan bahwa solar jenis B50 sudah terpasarkan mulai tanggal 1 Juli 2026 yang lalu. Diterangkan lagi olehnya, untuk pembelian tetap membutuhkan barcode seperti pembelian biosolar subsidi sebelumnya.
Selain itu menurutnya, tidak ada emblem atau tanda khusus yang menyebutkan bahwa biosolar yang dipasarkan merupakan jenis B50.
Untuk harga per liternya, masih menurut sumber Otodriver tadi, masih serupa dengan tabel harga biosolar sebelumnya yang berspesifikasi B40 yaitu Rp6.800 untuk setiap liter.
Hal serupa juga terungkap di sebuah unggahan di akun Instagram bernama sholahudinwijaya99 tertanggal 1 Juli 2026, sebuah SPBU di wilayah kota Mojokerto, Jawa Timur, juga sudah mulai memasarkan solar B50.
Dalam unggahan tersebut, pihak SPBU yang dikonfirmasi oleh content creator spesialis wilayah Mojokerto Raya itu mengakui bahwa pengiriman solar dari pihak Pertamina sudah berspesifikasi B50.

APM sudah siap merespon penyebaran Solar B50
Salah satu pihak yang akan sangat berkepentingan dengan konsumsi solar dengan kandungan minyak sawit sebesar 50 persen adalah pihak penyedia mobil baru.
Head of Brand Interactive, PT Hyundai Motor Indonesia (HMID), Rouli Sijabat yang dihubungi langsung pekan ini (1/7/2026) menjabarkan bahwa Hyundai Motors Indonesia senantiasa mengikuti perkembangan regulasi dan kebijakan pemerintah terkait penggunaan bahan bakar di Indonesia.
Seluruh kendaraan Hyundai yang dipasarkan, telah dirancang dan dikembangkan sesuai standar yang berlaku, serta direkomendasikan untuk menggunakan bahan bakar yang memenuhi spesifikasi yang tercantum dalam buku panduan kendaraan.
Terkait implementasi B50, pihak Hyundai terus melakukan pemantauan dan koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk memastikan kesiapan produk dan layanan purna jual.
Saat ini kendaraan baru Hyundai yang tercatat bermesin diesel adalah Palisade dan Staria. Sementara itu model bermesin diesel lain yang juga masih banyak beroperasi adalah Santa Fe (mesin 2.2 CRDi), kemudian H-1, dan Tucson.
Sejurus kemudian diterangkannya lagi, jaringan bengkel resmi Hyundai juga secara berkelanjutan mendapatkan pembaruan informasi teknis dan pelatihan guna mendukung kebutuhan pelanggan serta menjaga performa kendaraan sesuai standar yang ditetapkan pabrikan.
Dalam kesempatan lain, Head of Public Relations & Motorsport PT Toyota-Astra Motor, Philardi Ogi, yang juga dihubungi langsung pekan ini (30/6/2026), menyatakan bahwa Toyota Indonesia konsisten mendukung inisiatif Pemerintah Indonesia untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil melalui implementasi biofuel, salah satunya B50.
Disebutkannya, dalam pengujian bahan bakar baru itu juga telah melibatkan model kendaraan diesel dari Toyota dan dikabarkan memunculkan hasil yang positif. Tak lupa ia juga menganjurkan pengguna Toyota untuk menggunakan bahan bakar sesuai rekomendasi yang tertera di buku manual serta melakukan perawatan berkala untuk menjaga kondisi kendaraan agar tetap prima.
Berkaitan dengan rencana lain untuk masuknya bahan bakar bensin berkandungan unsur nabati (E10) yang juga sedang didorong pemerintah, Ogi menjelaskan lagi kalau seluruh kendaraan Toyota yang dijual saat ini sudah kompatibel dengan bahan bakar dengan campuran Etanol hingga 10 persen atau E10 tanpa memerlukan penyesuaian pada kendaraan. (EW)












