OTODRIVER – Keputusan Mitsubishi menggunakan kembali sasis tangga pada Pajero mungkin tidak bisa diterima dengan lapang dada bagi sebagian orang. Sebelumnya, SUV yang melegenda di reli gurun ini sudah menggunakan struktur monokok, bahkan sejak generasi III yang diperkenalkan pada penghujung era 90-an.
Chief Vehicle Engineer Mitsubishi Motors, Takaaki Matsumoto, menjelaskan bahwa adopsi sasis tangga memberikan kemampuan off-road yang lebih besar sekaligus lebih tepat mencerminkan misi Pajero sebagai kendaraan segala medan (multi-terrain).
Alasan ini tentu bukan mengada-ada dan telah dipertimbangkan masak-masak. Mitsubishi Pajero bukan satu-satunya model SUV flagship yang menggunakan sasis tangga. Rival terdekatnya, Land Cruiser 250, dan versi yang lebih tinggi, Land Cruiser 300, tetap menggunakan konsep body-on-frame.
Selain itu, SUV kelas berat lainnya seperti Nissan Patrol, Mercedes-Benz G-Class, hingga Cadillac Escalade masih mempertahankannya.
Lalu, apa yang melatarbelakanginya?
Kokoh, Awet, dan Luwes
Alasan utamanya sederhana: sasis tangga unggul di area yang tidak bisa digantikan monokok secara sempurna. CarBuzz menjelaskan bahwa desain ladder frame lebih unggul untuk truk dan SUV heavy-duty karena mampu menarik dan mengangkut beban lebih besar dibanding model unibodi. Selain itu, mobil dengan sasis tangga umumnya memiliki ground clearance lebih tinggi yang ideal untuk off-road, serta secara umum lebih tahan banting.
Kekuatan itu terbukti nyata di lapangan. Menurut DAX Street, Toyota Land Cruiser dibangun di atas sasis tangga baja berkekuatan tinggi yang direkayasa untuk bertahan hingga 25 tahun. Masih dari sumber yang sama, Ford Expedition dengan sasis tangganya disebut memiliki kapasitas tarik hingga 9.600 pon.
Lantaran bodi dan sasis terpisah, satu platform ladder frame juga bisa "disulap" menjadi berbagai varian bodi, pikap, SUV, hingga kendaraan komersial khusus tanpa perlu merekayasa struktur dari nol untuk tiap model.
Hal ini pula yang membuatnya lebih ekonomis dibandingkan struktur unibodi.

Namun, Bukan Tanpa Kekurangan
Meski unggul di ketahanan dan daya angkut, sasis tangga menyimpan sejumlah kelemahan yang membuatnya kalah populer di segmen mobil penumpang harian. Bobotnya yang lebih berat dibanding struktur unibodi secara langsung menggerus efisiensi bahan bakar dan respons handling.
Dubizzle.com menyebutkan bahwa ladder frame punya model rangka yang terbuka, tidak seperti monokok yang tertutup rapat menjadi satu kesatuan. Secara alamiah, kekakuan torsinya pun lebih rendah, sehingga lebih mudah melintir (flex) dan berdampak pada presisi kemudi serta kehalusan berkendara.
Postur bodi yang lebih tinggi akibat konstruksi body-on-frame juga menaikkan titik berat kendaraan, yang berpengaruh pada stabilitas saat bermanuver di kecepatan tinggi.
Selain itu, mobil dengan rangka ladder frame punya masalah noise, vibration, and harshness (NVH). Kondisi ini sebenarnya bisa direduksi dengan menggunakan body mounting yang lebih canggih, namun secara umum, masalah ini jauh lebih jarang ditemukan pada konstruksi monokok.

Tetap Fleksibel untuk NEV
Memasuki era elektrifikasi, bukan berarti sasis tangga lantas ditinggalkan. Sejumlah mobil listrik murni dan juga hybrid (PHEV ataupun REEV) yang berorientasi untuk kinerja berat tetap mengandalkannya.
Model yang umum menggunakannya adalah pikap dan SUV. Sebagai contoh, Ram 1500 REV, Ford Ranger PHEV, Scout Terra (BEV/REEV), Rivian R1T dan R1S (BEV), BAIC BJ41 (EREV), dan masih banyak lagi. (SS)












