OTODRIVER - Dalam beberapa waktu belakangan, berkendara di sejumlah wilayah Indonesia mendapatkan tantangan baru berupa asap akibat kathutla serta paparan abu vulkanik. Keduanya butuh perhatian yang lebih serius saat berkendara, terutama soal visibiltas.
Beberapa waktu lalu, seperti dkutip dari Trubunnews (5/9/2026), terjadi kecelakaan yang melibatkan dua bus, satu pikap, dan sebuah minibus di ruas tol Palembang-Indralaya KM 9+700, Sumatra Selatan.
Pemicunya akibat terbatasnya jarak pandang yang hanya sekitar dua meter akibat terpaan asap kebakaran lahan di sekitar jalan tol tersebut.
Tentu saja mengurangi kecepatan bisa jadi upaya preventif sebagai langkah awal untuk meghindari kecelakaan di jalur yang berpotensi terjadi penurunan jarak pandang. Seperti diutarakan oleh Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana saat dihubungi langsung pekan ini (7/9/2026).
Meski begitu diingatkan oleh Sony, seperti ketika jalanan turun hujan lebat, pemakaian lampu hazard ketika jalanan sedang pekat oleh asap ataupun abu vulkanik cukup direspon dengan menurunkan kecepatan.
Menyalakan fog lamp juga bukan pilihan yang mendesak, pekatnya asap ataupun debu vulkanik tidak bisa ditembus lampu.
Langkah lanjutan yang perlu dipertimbangkan adalah segera menepi ke jalur yang aman untuk berhenti sambil mengamati situasi untuk kemudian bisa melanjutkan perjalan jika jalur di depan dirasakan aman untuk dilintasi.
Jika diputuskan untuk melintasi jalur tersebut sambil menyalakan lampu kecil atau bahkan lampu besar, masih menurut Sony, juga didasari pertimbangan matang.
Ia menyodorkan asumsi sederhana, jarak pandang aman saat melaju di kecepatan 50 km/jam setidaknya butuh jarak pandang ke arah depan yang jelas di rentang 50 meter.
Diterangkannya lagi, jika ada opsi untuk memakai lampu tambahan dengan pendar sinar berwarna kuning, bisa melapisi dengan stiker transparan warna kuning memang bisa membuat posisi kendaraan dai arah berlawanan bisa mengetahui lebih jelas akan gerak laju kendaraan yang sedang kita kemudikan.
Namun pilihan untuk menurunkan kecepatan, bahkan tidak melakukan perjalanan saat ada terpaan abu vulkanik maupun asap tebal merupakan langah yang lebih bijaksana menurut pros yang pernah menggeluti ajang slalom itu. (EW)
