OTODRIVER – Selain memastikan kondisi ban masih layak pakai, ada hal penting yang wajib dilakukan secara berkala yakni memastikan tekanan angin ban secara rutin.
“Dengan memeriksa tekanan angin secara rutin kita dapat memastikan bahwa mobil tetap aman digunakan dalam penggunaan harian,” terang Product Manager dan Customer Engineering Support PT Michelin Indonesia.
“Beberapa mobil modern saat ini sudah dilengkapi dengan fitur Tire Presure Monitoring System (TPMS). Fitur ini sangat membantu mengetahui kondisi tekanan angin pada ban,” tambahnya.
Lebih jauh lagi, pria yang akrab disapa Rozi ini mengatakan ada beberapa hal kerugian atau potensi celaka karena tekanan angin terlalu rendah.
- Ban yang kehilangan tekanan angin akan punya resiko kerusakan lebih tinggi. Hal ini dikarenakan sidewall (dinding ban) akan melipat dan melebar yang berpotensi menimbulkan penumpukan panas yang dapat merusak struktur material ban. Akibat terburuk adalah pecah ban.
- Kendaraan jadi sulit dikendalikan. Kurangnya tekanan angin akan menyebabkan setir terasa lebih berat sehingga muncul potensi limbung terutama pada kecepatan tinggi.
- Boros BBM, hal ini dikarenakan rolling resistance ban yang kurang angin jadi lebih besar sehingga mesin ataupun motor listrik (pada EV) harus kerja lebih keras dan menyedot BBM atau daya listrik lebih besar.
- Rentan rusak pelek dan tapak ban. Kondisi ini terjadi apabila ban menghajar lobang jalanan. Tekanan angin yang kurang tidak mampu meredam benturan sehingga resiko pelek peyangf dan sisi luar ban akan cepat aus.
- Pengereman memburuk. Kurang angin menyebabkan dinding ban (sidewall) terlalu lentur, terlebih saat terjadi pengereman mendadak. Akibatnya jarak pengereman jadi lebih panjang.
Jangan lupa Chek tekanan angin ban serep
Walau berperan sebagai cadangan jangan lupa untuk cek tekanan angin pada ban serep. Berikan tekanan angin yang lebih tinggi agar ketika ban serep selalu dalam kondisi siap saat dibutuhkan. (SS)
