OTODRIVER – Toyota tengah menyiapkan arsitektur kendaraan baru bernama multi-pathway platform. Platform ini dirancang untuk mengakomodasi tiga jenis powertrain sekaligus, yakni mobil listrik baterai (BEV), plug-in hybrid (PHEV), dan hybrid (HEV).
Langkah ini diambil karena kondisi energi dan kebutuhan konsumen berbeda di setiap negara. Toyota ingin memiliki fleksibilitas untuk menyesuaikan komposisi produksi masing-masing jenis powertrain mengikuti permintaan pasar.
Menurut rilis resmi Toyota Europe pada 28 Oktober 2026, platform ini dikembangkan bersamaan dengan sistem hybrid generasi baru yang memiliki dimensi jauh lebih ringkas.
Dengan pendekatan tersebut, sistem hybrid dan PHEV dapat diintegrasikan ke dalam arsitektur dasar yang sama dengan BEV, tanpa harus mengorbankan desain bodi, ruang kabin, maupun kemampuan kendaraan. Sementara itu, untuk model listrik, Toyota mengklaim performanya tetap dapat dikembangkan tanpa kompromi terhadap kebutuhan powertrain lainnya.
Dimensi kompartemen mesin yang lebih ringkas juga memungkinkan kap mesin dibuat lebih rendah. Hal ini memberikan keleluasaan lebih besar bagi desainer dalam merancang proporsi dan bentuk bodi kendaraan.
Dari sisi bisnis, penggunaan satu arsitektur untuk tiga jenis powertrain memungkinkan biaya pengembangan dan produksi dibagi ke volume kendaraan yang lebih besar. Pabrik pun diharapkan bisa mengubah komposisi produksi secara lebih fleksibel mengikuti pergeseran permintaan pasar.
Pendamping platform tersebut adalah mesin empat silinder 1.500 cc generasi baru dengan konstruksi modular. Mesin ini tersedia dalam pilihan naturally aspirated (NA) dan turbo, termasuk konfigurasi yang dirancang khusus untuk kebutuhan elektrifikasi.
Mesin tersebut akan dipadukan dengan motor listrik, power control unit (PCU), dan inverter yang memiliki dimensi lebih ringkas serta bobot lebih ringan. Kombinasi teknologi ini ditargetkan mampu meningkatkan efisiensi bahan bakar lebih dari 15 persen pada model hybrid dan PHEV.
Toyota juga menyebut mesin generasi baru ini disiapkan agar dapat menggunakan bahan bakar terbarukan sebagai bagian dari upaya mencapai netralitas karbon.
Hingga kini, Toyota belum mengungkap jadwal penerapan platform tersebut, model pertama yang akan menggunakannya, maupun spesifikasi teknis seperti tenaga dan torsi mesin.
Namun, arah strateginya cukup jelas. Di tengah dorongan elektrifikasi penuh, Toyota memilih tidak menaruh semua telurnya dalam satu keranjang. Teknologi hybrid tetap mendapat tempat penting, berdampingan dengan mobil listrik dan PHEV. (SS)
