OTODRIVER – Desain mobil khususnya dari Amerika pada era 1950-an hingga awal 1960-an, ada satu hal yang langsung terasa. Mobil-mobil tersebut seperti tidak dibuat untuk sekadar melaju di jalan raya, tetapi seolah siap diluncurkan ke luar angkasa.
Bodi besar, sirip belakang menjulang, bumper berbentuk roket penuh krom hingga lampu belakang yang menyerupai nosel roket menjadi ciri khas desain pada masa itu. Namun tentunya kondisi ini bukan berarti ada hubungan erat antara dunia otomotif dengan dunia aviasi, atau malah mengidamkan mobil yang bisa terbang. Namun itulah yang terjadi di suatu era di mana industri otomotif Amerika sedang berada di tengah suatu masa yang kemudian dikenal sebagai Jet Age dan Space Age.
Mengutip dari americanhistory.si.edu, setelah Perang Dunia II berakhir, Amerika memasuki periode kemakmuran. Di saat yang sama, perkembangan pesawat jet, rudal dan program antariksa membuat teknologi masa depan menjadi bagian dari imajinasi masyarakat. Desainer otomotif pun ikut terpengaruh.
Salah satu contoh paling terkenal adalah sirip belakang Cadillac. Elemen tersebut mulai muncul pada Cadillac 1948 setelah desainer Franklin Quick Hershey terinspirasi bentuk ekor pesawat tempur P-38 Lightning. Awalnya kecil, tetapi ukurannya terus berkembang hingga menjadi salah satu ciri paling ekstrem mobil Amerika akhir 1950-an.
Menjelang akhir dekade, sirip tersebut bahkan sudah terlihat seperti sayap kecil. Cadillac Eldorado 1959 menjadi salah satu contoh paling ekstrem. Bukan hanya sirip, desain lampu, ornamen, grille dan garis bodinya juga dibuat seolah mengambil bahasa visual dari pesawat jet dan roket.
General Motors bahkan membawa imajinasi tersebut lebih jauh melalui Motorama. Ajang yang berlangsung dari 1949 hingga 1961 ini menjadi panggung bagi berbagai mobil konsep futuristis. Salah satunya GM LeSabre 1951 yang menggunakan banyak elemen desain pesawat jet. GM juga memperkenalkan keluarga konsep Firebird dengan desain dan teknologi yang secara terang-terangan mengambil inspirasi dari dunia penerbangan.
Chrysler tidak mau ketinggalan. Melalui desainer Virgil Exner, mereka memperkenalkan bahasa desain Forward Look pada pertengahan 1950-an. Bodi dibuat lebih rendah, panjang dan ramping dengan sirip belakang yang semakin dramatis. Desain tersebut kemudian menjadi salah satu identitas Chrysler pada era tersebut.
Gaya bukan fungsi
Menariknya, bentuk-bentuk tersebut sebenarnya tidak selalu memiliki fungsi aerodinamika yang serius. Bahkan bisa dikatakan malah mengganggu aerodinamika.
Secara fungsi, sirip-sirip itu lebih banyak berperan sebagai bahasa desain sekaligus alat pemasaran. Produsen membutuhkan cara agar mobil keluaran tahun berikutnya terlihat berbeda dari model sebelumnya.
Karena itu, perubahan desain menjadi sangat cepat. Konsumen yang sudah memiliki mobil tetap dibuat tergoda untuk membeli model baru hanya karena tampilannya berbeda. Smithsonian bahkan mencatat bahwa perubahan styling tahunan menjadi bagian dari strategi design obsolescence industri otomotif Amerika.
Namun tren ini tidak hanya terjadi di Amerika. Semangat Jet Age dan futurisme juga menyebar ke berbagai belahan dunia. Desainer Eropa dan Jepang mulai mengeksplorasi bentuk yang lebih rendah, aerodinamis dan futuristis, meski biasanya dengan pendekatan yang lebih sederhana tak seheboh jika dibandingkan mobil Amerika.
Pada akhirnya, era mobil bersirip besar mulai berakhir. Selera konsumen berubah dan desain yang terlalu penuh ornamen mulai ditinggalkan. Memasuki 1960-an, bentuk mobil perlahan menjadi lebih bersih, sederhana dan sporty.
Meski begitu, warisan Space Age masih terasa sampai sekarang. Banyak mobil konsep modern tetap menggunakan bahasa desain yang terinspirasi pesawat, roket dan teknologi masa depan.
Bedanya, kalau dulu desainer membuat mobil terlihat seperti roket karena manusia sedang bermimpi pergi ke luar angkasa, kini mobil justru benar-benar membawa teknologi yang dulu hanya ada dalam bayangan tersebut.(SS)
