OTODRIVER – Tren kendaraan elektrifikasi di Indonesia menunjukkan bahwa mobil listrik murni atau Battery Electric Vehicle (BEV) masih lebih diminati konsumen dibandingkan Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV).
Hal tersebut terlihat dari data penjualan sejumlah model yang tersedia dalam pilihan PHEV dan EV. Salah satunya adalah Wuling Darion yang mencatat penjualan sebanyak 290 unit untuk varian PHEV. Sementara varian EV jauh lebih tinggi dengan torehan 3.071 unit pada periode Januari-Juni 2026.
Perbedaan serupa juga terlihat pada Wuling Eksion. Model tersebut mencatat penjualan 313 unit untuk varian PHEV, sedangkan varian EV berhasil mencapai 1.520 unit pada periode yang sama.
Dengan demikian, penjualan varian EV pada kedua model Wuling tersebut terpaut cukup jauh dibandingkan PHEV. Jika digabungkan, Darion dan Eksion PHEV mencatat total 603 unit, sementara kedua model dalam varian EV mencapai 4.591 unit.
Fenomena serupa juga terlihat pada model lain. Geely EX5 yang hadir sebagai mobil listrik murni mencatat penjualan sebanyak 1.587 unit. Sementara Geely Starray yang mengusung teknologi PHEV membukukan 255 unit.
Menurut Ricky Christian, Marketing Operation Director Wuling Motors, saat ini konsumen memang masih lebih banyak memilih varian EV pada model yang tersedia dalam dua pilihan sistem penggerak tersebut.
“Saat ini memang EV lebih diminati di kedua model tersebut (Darion dan Eksion),” ujar Ricky.
Ia menilai salah satu faktor yang membuat mobil listrik lebih menarik bagi konsumen adalah keuntungan dalam penggunaan sehari-hari, terutama terkait aturan ganjil-genap serta biaya energi yang lebih efisien.
“Betul, karena ganjil-genap dan biaya energi yang efisien dari EV,” tambahnya.
Dari data tersebut, terlihat bahwa kehadiran PHEV belum otomatis membuat teknologi ini lebih menarik dibandingkan EV di mata konsumen Indonesia.
PHEV memang menawarkan fleksibilitas karena masih memiliki mesin pembakaran internal sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada fasilitas pengisian daya. Namun, bagi konsumen yang sudah siap beralih ke kendaraan listrik, keuntungan EV seperti biaya energi yang lebih rendah serta sejumlah kemudahan penggunaan justru menjadi pertimbangan yang lebih kuat.
Artinya, meski PHEV kerap disebut sebagai teknologi transisi menuju elektrifikasi penuh, setidaknya dari angka penjualan sejumlah model tersebut, konsumen Indonesia justru menunjukkan kecenderungan untuk langsung memilih mobil listrik murni.(AW)
