OTODRIVER - Pemilihan Xpeng G6 Pro sebagai peserta Mudik in Style 2026 bukan tanpa alasan. Setidaknya 4 poin yang jadi pertimbangan sebagai mobil libur Lebaran kali ini.
Xpeng G6 Pro punya bantingan suspensi sangat nyaman. Ayunan suspensi teredam maksimal saat melibas jalan berkontur kasar bahkan berlubang sekalipun. Goncangan di dalam kabin sangat minim layaknya mobil premium kelas atas dari merek-merek Eropa yang harganya bisa dua kali lipatnya.
Kinerja suspensi ini bisa dikategorikan empuk. Malah makin maksimal berkat sistem insulasi kabin yang sempurna. Kaca pun dilengkapi sistem peredam suara berupa double glass. Artinya 2 lapis kaca direkatkan jadi satu dengan insulator di bagian tengahnya.
Efeknya suara bising dari luar kabin teredam maksimal. Bahkan suara gesekan ban pun mampu tersaring sempurna. Semua ini menambah kesenyapan di dalam kabin saat mobil melaju. Sehingga pengemudi tak lekas lelah meski lama mengemudi.
Meskipun suspensinya empuk, Xpeng G6 Pro tidak lantas limbung. Pengendalian mobil tetap menyenangkan. Tenaga 281 hp dan torsi 440 Nm pun masih terasa nikmat. Akselerasi instan 0-100 km/jam dalam tempo 6,7 detik pun mudah saja dirasakan di lalu lintas kota Jakarta yang lenggang ditinggal warganya mudik.
Alasan kedua Xpeng G6 Pro terlahir sebagai sebuah SUV listrik. Di saat kebanyakan peserta Mudik in Style 2026 lainnya memilih mobil bermesin bakar karena malas antre di charging station saat berkendara ke luar kota.
Memang Xpeng G6 Pro ini hanya berputar di sekitaran Jakarta saja. Jadi mobil listrik pilihan paling efisien dibanding mobil bermesin bakar. Xpeng mengklaim konsumsi energinya mencapai 17,5 kWh/100 km. Baterainya berkapasitas 80,8 kWh mampu menempuh jarak hingga 525 km dalam sekali full charge.
Ketiga, Xpeng G6 Pro dibangun memakai arsitektur 800 Volt yang artinya sudah mampu menerima pasokan listrik berdaya besar saat dicharge ulang. Fitur ultra fast charging ini memungkinkan daya hingga 451 kW sehingga mampu memangkas waktu charging baterai.
Xpeng mengklaim hanya perlu 12 menit saja mengisi ulang baterai dari kondisi 10 ke 80 persen. Memang fasilitas ultra fast charging berdaya besar belum banyak tersedia. Di sekitaran Jakarta pun hanya 22, 120 atau 200 kW. Satu-satunya terbesar ada di Alam Sutera, Tangerang Selatan berdaya 480 kW.
Tapi soal ini tak perlu risau. Seiring dengan makin banyaknya populasi mobil listrik dan teknologi arsitektur 800 Volt, tentunya akan makin banyak ultra fast charging dibangun ke depannya.
Contohnya BYD juga tengah mengembangkan di mobil-mobil keluaran terbarunya hingga mampu dicharge hingga 1.000 kW.
Setidaknya Xpeng G6 Pro sudah siap menanti ultra fast charging berdaya hingga 500 kW nantinya.
Alasan terakhir adalah model desain Xpeng G6 Pro ini terlihat dewasa. Siluetnya mirip mobil coupe dari samping. Lekukan bodi terlihat minimalis tanpa ada tekukan desain radikal. Simpel namun terkesan mewah. Apalagi di keempat pintu model frameless menambah tampilan mahal berkelas.
Toh masih ada catatan yang patut disimak. Soal akses ke menu pengaturan yang hampir semua terpusat di dalam menu layar monitor. Sehingga cukup merepotkan saat akan menyetel pengaturan dasar seperti kontrol AC, lampu dan kaca spion. Alangkah sempurnanya jika kontrol tersebut bisa ditambahkan tombol atau switch fisik terpisah dari menu di layar monitor.
Harga Xpeng G6 Pro juga naik mulai tahun 2026 imbas distopnya insentif PPN mobil listrik dari pemerintah. Jika sebelumnya dijual Rp 619 juta, sekarang naik jadi Rp 679 juta (tipe Long Range). Padahal ada beberapa merek Cina lain yang masih mempertahankan harga lama meski tak dapat insentif PPN dari pemerintah. (BA)
