OTODRIVER – Mobil listrik mungkin bakal jadi "jam digital". Lalu mobil bermesin pembakaran? Bisa jadi justru berubah menjadi "jam mekanis Swiss".
Itulah gambaran menarik dari Mate Rimac, CEO Bugatti Rimac, ketika melihat masa depan mobil.
Rimac memang bukan orang yang anti-mobil listrik. Justru sebaliknya, ia membangun Rimac menjadi salah satu pemain penting di dunia mobil listrik berperforma tinggi. Namun ketika bicara Bugatti, ceritanya berbeda.
Dalam wawancara dengan Top Gear, Rimac menggambarkan perbedaan karakter kedua merek seperti jam mekanis Swiss dan Apple Watch. Bugatti mengutamakan heritage, craftsmanship, detail, dan kualitas. Sementara Rimac lebih dekat dengan teknologi, data, dan performa elektrifikasi.
Analogi tersebut kemudian diperjelas Rimac dalam wawancaranya dengan MotorTrend. Menurutnya, Apple Watch bisa melakukan jauh lebih banyak hal dibanding jam mekanis.
Namun, orang tetap bersedia membayar sangat mahal untuk jam mekanis karena craftsmanship dan mekanismenya. Ia melihat fenomena serupa bisa terjadi pada mobil kelas atas.
Artinya, ketika mobil listrik semakin menjadi pilihan utama untuk kebutuhan transportasi, mesin pembakaran tidak otomatis kehilangan tempat.
Posisinya saja yang berubah, bukan lagi soal efisiensi atau kepraktisan, melainkan soal rasa: suara mesin, putaran mesin, perpindahan gigi, getaran, mekanisme yang rumit, bahkan cara sebuah mesin menghasilkan tenaga.
Persis seperti orang yang sudah punya smartwatch, tetapi masih ingin memakai jam mekanis.
Tourbillon, Wujud Nyata Filosofi Itu
Bugatti tampaknya memang sedang mengambil jalur tersebut. Lihat saja Tourbillon.
Hypercar ini memakai mesin V16 naturally aspirated 8,3 liter yang menyumbang 1.000 hp, dipadukan dengan tiga motor listrik yang menambah 800 hp, sehingga total tenaganya mencapai 1.800 hp.
Bugatti secara terang-terangan menyebut motor listrik bukan sebagai pengganti mesin pembakaran, melainkan teknologi yang memungkinkan mesin V16 tetap menghadirkan karakter emosionalnya.
Filosofi ini bahkan merembet ke interior. Instrument cluster Tourbillon dibuat dengan keahlian pembuat jam Swiss. Isinya lebih dari 600 komponen, menggunakan titanium, sapphire, dan ruby, dengan toleransi presisi antara 50 hingga 5 mikron.
Pelajaran dari Revolusi Quartz
Pandangan serupa juga pernah disampaikan Achim Anscheidt, mantan Direktur Desain Bugatti. Ia melihat perkembangan mobil listrik sebagai kemenangan jam digital atas jam mekanis. Namun, menurutnya, revolusi quartz pada era 1970-1980-an justru membuat orang kembali menghargai keindahan mekanisme jam mekanis. Ia berharap hal serupa terjadi pada mobil bermesin pembakaran kelas atas.
Jadi, mungkin masa depan mobil bukan sekadar listrik melawan bensin. Mobil listrik akan menjadi alat yang semakin canggih dan efisien. Sementara sebagian mobil bermesin pembakaran bisa berubah menjadi sesuatu yang berbeda: sebuah benda mekanis yang dibeli bukan karena paling masuk akal, tetapi karena memiliki sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh angka di brosur.
Seperti jam mekanis. Tidak paling praktis, tidak paling efisien. Tapi justru itu yang membuatnya menarik. (SS)
