OTODRIVER - Apabila pengadaan 105 ribu pikap dan mobil niaga untuk proyek Koperasi Merah Putih benar-benar direalisasikan maka ada beberapa hal yang harus dikejar oleh brand tersebut.
Hal tersebut adalah layanan-layanan aftersales yang justru berpotensi jadi ‘pekerjaan rumah’ terbesar.
“Kehadiran kendaraan operasional tidak bisa dipisahkan dari kesiapan aftesales dan logistik mereka, terlebih jika sudah diketahui jumlahnya besar,” terang Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Kukuh Kumara, saat ditemui Otodriver, Jumat (27/02/2026).
Kukuh menambahkan bahwa bagian ini sangat krusial lantaran akan berpengaruh pada kelangsungan hidup mobil Mahindra dan Tata ke depannya.
“Setidaknya persiapan jaringan purna jual harus menjadi perhatian. Termasuk di dalamnya adalah ketersediaan sparepart hingga 10 tahun. Selain itu juga harus disupport dengan keberadaan bengkel resmi yang menjadi jaminan kelancaran selama mobil tersebut beroperasi,” perincinya.
“Dan hal lainnya yang harus terpenuhi adalah ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang terlatih seperti mekanik yang terlatih untuk menangani armada tersebut. Dan khusus yang ini tidak bisa langsung tersedia dalam waktu singkat. Butuh waktu dan investasi untuk pengadaan SDM ini,” jelas pria ramah ini.
Kukuh mengatakan bahwa layanan aftersales ini memang harus dibuat ekosistemnya dan tidak bisa dikebut dalam waktu yang singkat.
Sampai berita ini diturunkan, kami belum mendapatkan respons dari kedua brand terkait masalah jaringan aftersales ini
Jika melihat dari data yang dapat disitas dari website Mahindra dan Tata, maka saat ini Mahindra memiliki 5 (lima) bengkel resmi yang terdiri atas 3 jaringan 3S (Sales, Service dan Sparepart) dan 2 jaringan 2S (Service dan Sparepart). Sedangkan untuk Tata memiliki 16 jaringan 3S dan disupport oleh bengkel rekanan resmi yang telah mengantongi Tata Certified Workshop (TCW). (SS)
