OTODRIVER - Menurunnya performa Suzuki di Thailand, berujung pada ditutupnya operasi pabrikan berlogo S itu di Negeri Gajah Putih pada akhir 2025 silam.
Seperti dilansir dari Asia Nikkei, sebagai tindak lanjut, Suzuki akan menjual pabrik perakitan Rayong miliknya kepada Ford Motor. Perjanjian penjualan telah ditandatangani antara Suzuki dan Ford, dengan transfer lahan dan aset diharapkan selesai dalam beberapa bulan.
Laporan dari Autoindustriya, Ford dan Suzuki telah menyepakati penjualan fasilitas seluas 66 hektar tersebut, senilai USD 3,9 miliar, yang akan dibayarkan oleh Ford selama periode 30 tahun.
Akuisisi pabrik Suzuki di Rayong oleh Ford memberikan tambahan ruang pabrik seluas 65.000 meter persegi. Posisinya yang tepat di sebelah pabrik Ford yang sudah ada memberikan Ford keuntungan operasional utama, yang memungkinkan integrasi dan ekspansi di masa depan dengan mudah tanpa biaya dan penundaan pembangunan fasilitas baru dari awal.
Langkah ini menunjukkan komitmen jangka panjang Ford terhadap kawasan ASEAN, dan Thailand khususnya, sebagai pusat ekspor utama.
Sebelumnya Ford sudah memiliki dua fasilitas manufakturing di Rayong yakni AutoAlliance Thailand yang merupakan patungan dengan Mazda (70% dimiliki Ford) dan Ford Thailand Manufacturing (FTM).
Di kedua lokasi ini Ford sudah memproduksi lebih dari 270.000 unit Ranger dan Everest, di mana sekitar 90% diekspor ke pasar luar negeri di seluruh Asia Tenggara, Oseania, dan destinasi penting lainnya.
Walau demikian, bukan berarti merek Suzuki lantas hilang dari pasar Thailand. Brand ini masih menjual beberapa produk yang diimpor dari berbagai negara, termasuk Suzuki XL7 dan Carry yang dikirim dari Indonesia. (SS)
