OTODRIVER – Produk Chery Group semakin beragam dan kian banyak beredar di Indonesia. Namun sampai saat ini rencana memiliki pabrik sendiri masih sebatas wacana. Melihat dari perjalanan yang sudah ada, rencana membangun pabrik di Indonesia bukan cerita baru. Wacana ini sudah muncul sejak 2022, tapi hingga kini belum juga terwujud. Walau demikian, pihak Chery mengatakan bahwa mereka tetap mengupayakan dan memantau kondisi yang ada.
Presiden Direktur PT Chery Grup Indonesia, Zeng Shuo, mengatakan pihaknya masih mempelajari peluang tersebut. Menurutnya, investasi jangka panjang membutuhkan kepastian regulasi.
“Jadi kita investment-nya biasanya bukan short term. Biasanya kita long term. Jadi regulasi yang konsisten sama stabil amat penting biar industri sehat dan berkembang,” ujar Zeng Shuo saat ditemui di Wuhu, China, Jumat (23/10/2026).
Ia menambahkan, jika tawaran pemerintah cukup menarik, bukan tidak mungkin pabrik segera direalisasikan.
Target yang Terus Bergeser
Rencana ini pertama kali disampaikan di IIMS 2022 oleh Presiden Direktur Chery Motor Indonesia, Tao Yong, yang berharap pabrik beroperasi pada 2024. Di tahun yang sama, Chery memulai perakitan lokal di fasilitas PT Handal Indonesia Motor (HIM), Bekasi, dengan Tiggo 7 Pro dan Tiggo 8 Pro.
Setelah itu, target berulang kali bergeser. Pada Oktober 2024, Zeng memperkirakan pabrik mandiri beroperasi pada 2026. Memasuki Januari 2026, Chery menargetkan groundbreaking di tahun yang sama dan fasilitas rampung pada 2027, dengan kapasitas 100.000 unit per tahun. Namun pada Agustus 2026, lokasi pabrik masih belum diumumkan.
Lokalisasi Tetap Jalan
Meski belum memiliki pabrik mandiri, Chery menegaskan komitmennya untuk meningkatkan penggunaan komponen lokal. Saat ini, perusahaan telah bekerja sama dengan sejumlah pemasok dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan produksi kendaraan di Indonesia.
“Kita sudah follow policy yang localization ini. Jadi ke depan kita juga akan tetap follow aturan sama roadmap yang sudah diset pemerintah,” lanjut Zeng.
Salah satu langkah yang tengah disiapkan adalah lokalisasi baterai untuk mendukung pemenuhan ketentuan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 60 persen pada tahun depan.
Chery juga diketahui memiliki komitmen investasi mencapai Rp 5,2 triliun hingga 2030. Investasi tersebut mencakup pengembangan fasilitas produksi di Indonesia, baik melalui kemitraan dengan pihak lain maupun pembangunan pabrik mandiri.
Selain memenuhi kebutuhan pasar domestik, Chery Indonesia telah memperluas aktivitasnya ke pasar ekspor dengan mengirimkan kendaraan setir kiri ke Vietnam.
Setelah sekitar empat tahun sejak wacana pertama, pabrik mandiri Chery kini tinggal soal kapan perusahaan siap merealisasikannya. Untuk sementara, Chery masih mengandalkan mitra produksi lokal. (SS)
