OTODRIVER - Mesin mobil hybrid Toyota mengandalkan teknologi katup variabel ganda (Dual VVT-i), mesin ini membutuhkan BBM dengan kualitas yang sesuai kebutuhan agar dapat bekerja secara optimal. Jika tidak, banyak potensi masalah yang akan muncul, mulai dari kehilangan tenaga sampai yang terparah yaitu mesin mengalami gangguan serius.
Karena mesin mobil terkini memiliki rasio kompresi yang tinggi, termasuk mesin hybrid Toyota dengan rasio kompresi di atas 13:1. Perlu diingat selalu, spesifikasi seperti itu membutuhkan bahan bakar dengan nilai RON di atas 90.
Namun perlu juga diketahui, bahan bakar dengan nilai oktan yang lebih rendah ternyata memiliki sifat mudah terbakar. Jika itu terjadi pada mesin Toyota modern, bahan bakar seperti itu akan terbakar sendiri sebelum busi memercikkan api sesuai siklus kerja mesin. Ini menjadi pendorong terjadinya gejala knocking.
Marketing Division Head Auto2000, Nur Imansyah Tara, dalam keterangan resminya menyebutkan bahwa gejala knocking dan menumpuknya deposit di ruang bakar adalah dua hal yang perlu dihindari pada mesin hybrid Toyota.
Selain servis berkala, menggunakan jenis BBM yang sesuai rekomendasi Toyota pabrikan perlu dicermati selalu.
Dijabarkannya lagi, penggunaan bahan bakar oktan rendah memicu pembakaran tidak sempurna yang menyebabkan mesih kehilangan tenaga.
Gejala knocking atau ngelitik sendiri bisa terdengar jelas dari dalam kabin saat pedal gas diinjak. Suara itu akan terdengar semakin jelas jika mobil dalam butuh tenaga besar seperti ketika muatan penuh, menyalip kendaraan lain, atau di jalan menanjak.
Jika dibiarkan, komponen di dalam ruang mesin lebih cepat rusak karena bekerja tidak sesuai porsinya.

Spesifikasi bahan bakar tidak sesuai bikin deposit
Masalah yang perlu diwaspadai jika tak memilih bahan bakar sesuai rekomendasi pabrik adalah deposit kotoran di dalam ruang mesin.
Penumpukan deposit itu ikut memicu meningkatkan suhu di mesin akibat kinerja komponen mesin tidak sesuai kebutuhan. Tenaga mesin akan menurun yang diikuti oleh penggunaan bahan bakar boros akibat pengemudi memaksakan menginjak pedal gas lebih dalam.
Bahan bakar yang sesuai akan membantu meningkatkan efisiensi mesin yang berujung pada penghematan bahan bakar, walaupun tetap tergantung faktor lain seperti gaya berkendara, hingga kontur jalan.

Potensi performa mesin yang akan muncul seiring pemakaian bahan bakar sesuai spesifikasi mesin membuat pedal gas tak perlu diinjak terlalu dalam untuk mencapai tenaga maupun torsi yang diperlukan saat berkendara.
Biaya operasional mobil dalam jangka panjang akan terasa lebih ringan. Servis berkala setiap 6 bulan sekali bisa jadi langkah pencegahan penuruna performa mesin. (EW)











