OTODRIVER – Dari unggahan Astra Tol Cipali, pihak KNKT menyebutkan bahwa kecelakaan kendaraan yang mengangkut penumpang di jalan bebas hambatan sebanyak 80 persennya akibat pecah ban.
Tindakan preventif yang bisa dilakukan, meskipun sering terabaikan, sebenarnya sederhana. Pertama, pantau rutin tekanan udara di ban sesuai dengan petunjuk pabrikan mobil. Langkah-langkah lanjutannya seperti tidak membebani mobil dengan muatan berlebih, periksa alur serta kondisi fisik ban, sampai menjaga kecepatan saat mobil melaju.
Hal-hal itu kerap diabaikan, namun justru malah mengundang bahaya ataupun kecelakaan fatal.
Untuk tekanan ban, pada kenyataannya menjadi salah satu simpul yang mematikan jika kemudian membuat ban pecah. Terlebih saat mobil melaju di jalan tol.
Jika lupa soal kapan terakhir mengisi udara ke ban sebenarnya di pasaran banyak dijual Tyre Pressure Monitoring System (TPMS). Selain tentu bagi sejumlah model atau varian mobil tertentu sudah dipasang alat pantau ini.
TPMS yang terpasang sebagai salah satu indikator penting di kabin mobil sejatinya akan banyak membantu pengemudi soal kelaikan teknis berkaitan tekanan angina dan ban dari kendaraan yang sedang dikemudikannya.
Jika terdeteksi ban kurang angin ataupun kelebihan angin, bisa dilakukan tindakan koreksi sebelum melanjutkan perjalanan.
Dari laman Michelin Indonesia, dijabarkan bahwa TPMS secara praktis menampilkan indikasi tingkat tekanan ban pada modul yang terpasang di kabin indikator atau lampu peringatan.
Secara umum, peranti ini beroperasi dengan dua sistem deteksi; secara langsung dan tidak langsung.
Lewat sistem langsung, informasi tekanan udara di ban dikirim kembali secara real time melalui sensor tekanan ban yang umumnya terpasang di sekitaran pentil ban.
Informasi ini dikirim ke komputer terpasang untuk ditampilkan di peranti pantau yang ada di kabin mobil. Peranti ini juga banyak dijual secara umum, dalam satu paket akan disediakan modul yang akan mengindikasikan tekanan ban dan sensor yang terpasang di dalam ban.
Untuk sistem yang tidak langsung, umumnya sudah terpasang sebagai peranti standar dari pabrikan mobil.
Sistem ini akan memantau tekanan ban yang dihitung oleh sistem pemantauan tekanan ban berdasarkan kecepatan putaran roda, yang juga terhubung dengan fitur ABS (Anti-lock Braking System) dan ESP (Electronic Stability Program).
Jika ditengarai terjadi kecepatan rotasi roda yang meningkat disaat diameter roda berkurang karena kurang tekanan maka sinyal tersebut akan dikirim ke indikator yang ada di dasbor oleh TPMS.
TPMS bisa jadi peranti peringatan dini ke pengemudi untuk bisa mengetahui tekanan ban yang disarankan tanpa perlu rutin datang toko ban atau bengkel.
Namun pada umumnya TPMS akan bekerja jika terjadi penurunan tekanan udara di dalam ban jika sudah melewati tingkatan 20 persen atas sekitar 0,4 bar dari tekanan udara yang direkomendasikan. (EW)
