OTODRIVER - Mobil masih nyaman dipakai setiap hari, namun tanpa disadari nilainya terus mengalami penurunan.
Kondisi ini merupakan hal yang wajar dalam dunia otomotif, tetapi ada sejumlah faktor yang membuat harga jual kendaraan turun lebih cepat dari seharusnya.
Dalam pengelolaan armada kendaraan, banyak perusahaan masih beranggapan bahwa mobil baru dijual ketika biaya perawatan sudah tinggi atau kendaraan mulai sering bermasalah.
Padahal, keputusan menunda penjualan justru berpotensi menimbulkan kerugian lebih besar akibat depresiasi atau penyusutan nilai aset.
Timing Jual Mobil Bisa Pengaruhi Nilai Aset
Sebagai gambaran, sebuah kendaraan operasional yang dibeli perusahaan seharga Rp250 juta memiliki pola penurunan nilai yang cukup signifikan seiring waktu.
Jika mobil dijual pada tahun keempat pemakaian, nilai pasarnya masih berada di kisaran Rp140 juta hingga Rp150 juta. Pada usia tersebut, kondisi kendaraan umumnya masih relatif sehat, risiko perbaikan besar belum terlalu tinggi, dan mobil masih cukup menarik baik bagi showroom maupun pembeli individu.
Namun situasinya berubah ketika kendaraan baru dilepas pada tahun keenam atau ketujuh. Nilai pasar mobil dapat turun menjadi Rp90 juta hingga Rp110 juta. Selain kilometer yang sudah tinggi, risiko kerusakan besar mulai meningkat sehingga showroom maupun calon pembeli menjadi lebih agresif dalam menekan harga.
Jual ke Showroom Memang Praktis, Tapi Harga Bisa Tertekan
Saat memutuskan melepas kendaraan operasional, perusahaan biasanya dihadapkan pada dua pilihan utama, yakni menjual ke showroom atau langsung ke pengguna akhir atau end user.
Jalur showroom menjadi opsi paling umum karena menawarkan proses yang lebih praktis. Namun, showroom membeli kendaraan untuk dijual kembali sehingga mereka harus memperhitungkan margin keuntungan, biaya refurbish atau perbaikan ringan, biaya penyimpanan unit, hingga risiko apabila kendaraan sulit terjual. Akibatnya, harga beli showroom hampir selalu berada di bawah market value kendaraan.
Jual ke End User Berpotensi Lebih Tinggi, Tapi Perlu Data Transparan
Karena alasan tersebut, sebagian perusahaan memilih menjual kendaraan langsung ke end user demi memperoleh harga yang lebih optimal. Tanpa perantara dealer, harga jual memang berpotensi lebih tinggi. Namun tantangan dalam prosesnya juga jauh lebih kompleks.
Calon pembeli individu biasanya lebih detail dan kritis terhadap kondisi kendaraan. Mereka ingin mengetahui apakah mobil pernah mengalami tabrakan, memiliki riwayat banjir, kondisi mesin, adanya rembesan oli, hingga kelengkapan riwayat servis. Sayangnya, tidak semua perusahaan memiliki data kondisi kendaraan yang terdokumentasi secara lengkap.
Inspeksi Mobil Dinilai Bisa Menjaga Nilai Jual
CEO Garasi.id, Ardy Alam, mengatakan banyak perusahaan sebenarnya tidak merugi karena kondisi mobil yang buruk, melainkan karena tidak memiliki data profesional yang bisa membuktikan kondisi kendaraan.
“Banyak perusahaan sebenarnya tidak rugi karena mobilnya jelek, tapi karena tidak punya data yang bisa membuktikan kondisi kendaraan secara profesional. Akhirnya harga ditekan terus saat negosiasi,” ujar Ardy Alam.
Karena itu, keputusan mempertahankan atau mengganti kendaraan perlu dihitung berdasarkan waktu ketika biaya mulai tidak efisien, market value masih baik, serta saat kendaraan mulai berpotensi menjadi beban biaya.
“Banyak perusahaan baru menjual kendaraan ketika biaya sudah tinggi dan nilainya turun jauh. Padahal, dengan adanya Inspeksi Mobil Garasi.id konsumen bisa mempunyai data yang tepat, keputusan bisa diambil lebih cepat dan jauh lebih menguntungkan,” tutup Ardy.
Melalui laporan inspeksi yang transparan, proses negosiasi dapat berjalan lebih objektif dan perusahaan memiliki dasar yang lebih kuat untuk mempertahankan harga jual kendaraan sebelum nilainya turun terlalu jauh. (GIN)
