OTODRIVER - Isu kebakaran baterai masih menjadi salah satu hambatan terbesar dalam percepatan adopsi kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Indonesia.
Kekhawatiran ini kerap muncul di ruang publik, meski tidak selalu didukung fakta teknis yang memadai dan sering dipicu oleh misinformasi.
Hal tersebut disoroti Komunitas Mobil Elektrik Indonesia (KOLEKSI) dalam diskusi bertema “Zero Emission and Zero Accident” yang digelar pada Sabtu (24/1) di Museum Listrik Energi Baru, TMII.
KOLEKSI menegaskan pentingnya edukasi keselamatan dan komunikasi publik berbasis data guna meluruskan berbagai mitos seputar kendaraan listrik.
Berdasarkan Survei Global EV Alliance (GEVA) 2025 yang dirilis November 2025, sebanyak 77 persen dari 26.071 pengemudi EV di 30 negara menilai bahwa hambatan terbesar adopsi kendaraan listrik bukanlah harga maupun teknologi, melainkan mitos yang beredar di ruang publik, termasuk kekhawatiran terhadap risiko kebakaran.
Misinformasi dinilai berpotensi menurunkan kepercayaan publik, membuat pembuat kebijakan ragu, serta memperlambat transisi energi dan upaya perbaikan kualitas udara. Padahal, risiko teknis pada kendaraan listrik sejatinya dapat dicegah dan dikelola melalui standar keselamatan yang tepat.
Dalam melawan misinformasi, KOLEKSI menilai suara pengguna aktif lebih efektif dibandingkan kampanye satu arah. Pengalaman nyata para pemilik kendaraan listrik dapat menjadi sumber edukasi yang kredibel bagi masyarakat.
Ketua Umum KOLEKSI, Arwani Hidayat, menilai Indonesia masih membutuhkan regulasi keselamatan yang lebih komprehensif, mulai dari standar instalasi home charging, sertifikasi teknisi dan instalator, hingga SOP penanganan kebakaran kendaraan listrik, baik di rumah maupun di SPKLU.
“Transisi kendaraan listrik tidak hanya soal teknologi, tetapi juga soal kepercayaan. Dan kepercayaan hanya bisa tumbuh ketika keselamatan diatur, risikonya dikelola, dan masyarakat mendapatkan informasi yang benar,” ujarnya.
KOLEKSI juga mendorong pemerintah untuk meningkatkan kapasitas pemadam kebakaran di daerah serta melibatkan komunitas pengguna sebagai bagian dari strategi komunikasi publik berbasis pengalaman nyata. (RA)
